pagi tak pernah ingkar// siang merayap datang menepati janjinya// pada senja yang susul menyusul merambati malam// terkadang aku mengerti, kadang tidak// kenapa tuhan sering kali bersumpah demi namamu, masa. sesingkat inikah engkau.....salam duniaku,
Wednesday, October 12, 2011
tak sesederhana itu
Thursday, August 18, 2011
Si Tua, Si Tuli Dan Sepeda Kumbang
Gadis kecil berseragam merah putih sedang menggigit-gigit jari manisnya. Terlihat seperti kebingungan. Cemas, lebih tepatnya. Matanya bergerak-gerak cepat kekanan-kikiri. Kepalanya yang kecil mengikuti gerak tubuhnya yang lincah mencari sesosok tua dan beruban. Sudah lima belas menit waktu berlalu dari pukul 12.15, si tua belum kelihatan juga. Gadis kecil terlambat. Jantungnya berdetak hebat. Takut terlambat sekolah.
Jam satu siang masih 30 menit lagi.
Namun, sekolah begitu jauh untuk ditempuh 30 menit dengan sepeda butut. Gadis kecil tambah resah. Dalam hati ia berkata, kek..!cepatlah datang, aku butuh bantuanmu!!!
Dari kejauhan, bayangan laki-laki kurus dengan sepeda tua yang telah menemani kaki-kaki tuanya menempuh sebuah perjalanan, muncul tiba-tiba.
Gadis kelas tiga itu, akhirnya melengkungkan bibir tipisnya. Si tua dan sepeda kumbang tuanya mendengar harapannya.
Cepat kek, aku terlambat! Kata si gadis berbisik.
Sunyi.
Ia, si tua beruban itu, hanya diam saja.
Si gadis berseragam merahputih itu kemudian menaiki boncengan sepeda kumbangnya dan duduk sambil tangan kecilnya memegangi lapak yang hampir lepas kulit penutupnya. Sangat erat.
Sepeda kumbang melaju perlahan.
Jalan setapak pinggir kali menjadi pilihan sepedanya mengantar gadis kecil yang ia sebut, cucu.
Gemericik air kali, memecah kesunyian diantara perjalanan dua insan tua dan sangat muda ini. Dinginnya air kali, mengurangi rasa panas dari terik matahari di kepala kami. Meski, panas masih sangat terasa di bun-ubun. Tak luput membuat rambut si gadis bertambah merah. Nampak sekali si gadis kampung, kurang vitamin. Panas sudah menjadi kawan karibnya.
Kami masih terdiam.
Gadis kecil masih duduk tenang dan masih berharap semoga ia tak terlambat. Si tua pun masih mengayuh sepedanya. Pelan.
Tenang tanpa kata.
Mata si gadis berbinar-binar, dari kejauhan rel-rel kereta nampak dipeluk mata. Pertanda gedung sekolah hampir di depan mata.
Akhirnya, si tua pun memberhentikan sepedanya dan turun. Menoleh kebelakang, sambil tangan kirinya tetap memegang stir sepedanya, si tua melihatnya turun dari boncengannya. Si gadis kecil mengambil tangan kanan si tua, lalu diciumnya.
Aku sekolah dulu ya kek! Assalamualaikum...., katanya pamit.
Wa’alaikumussalam, jawabnya.
Mata si tua masih mengikuti langkah kaki-kaki si gadis menyusuri rel-rel kereta yang harus dilalui untuk menuju gedung sekolah yang sebenarnya. Enam hingga tujuh jalur kereta api yang harus ia tempuh. Loncat sana-loncat sini. Berburu waktu. Sekolahnya berada di balik rel-rel mati itu.
Si gadis berseragam merahputih ahirnya berhasil melewati 7 jalur rel mati itu. Ia, si tua beruban itu masih disana—ditempat dimana si gadis kecil mencium tangan keriputnya. Gadis kecil melanjutkan perjalanannya yang tinggal beberapa meter lagi. Sepertinya mata si tua sudah tak melihat bayangan si gadis. Tiba-tiba terpikir oleh si gadis kecil, mempercepat langkah kaki mencari semak. Dan sekilas petir, ia melesat, bersembunyi.
Gadis kecil ingin melihatnya, pulang.
Si tua memutar sepeda kumbangnya. Dan punggung itu, yang telah melengkung 25 derajat pun menjauh bersama bayangan hitamnya.
Gadis kecil terdiam.
Dan terdengarlah suara bel sekolah, tepat bersamaan dengan kaki kirinya melewati gerbang sekolah.
intermission.
Suatu hari yang lain, masih dengan seragam merahputihnya. Gadis kecil itu lagi-lagi sedang cemas. Seperti biasa, masalah telat ke sekolah. Siang itu si gadis berseragam merahputih itu, menunggu seseorang yang akan mengantarnya ke sekolah. Kali ini, bukan situa yang ia tunggu. Si yang lain, yang ia tunggu. Si itu adalah pak de kesayangannya, yang tak kunjung datang. Ia memanggilnya, wak. Kurang 20 menit lagi jam masuk sekolah.
wak pun datang tiba-tiba.
Aih, kemana saja wak ini!! Sambil menunjuk jam tangan yang sebenarnya tak ada, dengan berkomat kamit kata “telat, ayo cepet” tanpa bersuara! Gadis kecil menggerutu.
Seperti si tua, iapun tak menjawab apa-apa.
Langsung saja, si gadis naik dan berbonceng di sepeda kumbang milik si tua. Ia mengayuh kecang sepedanya. Seperti biasa, kami melewati jalan setapak pinggir kali.
Asyiiiik!kata si gadis memecah sunyi.
Lumayan meski panas, tapi karena wak mengayuh sepedanya agak kencang membuat semilir angin segar merambati seragam putihnya melewati ketiak kanan-kirinya. Si gadis senang bukan kepalang.
Kali telah mereka lewati. Tak ada lagi suara gemericik yang menyejukkan itu. Kini yang terdengar hanya suara gesekan sayap ban belakang sepeda kumbangyang nyaris saling menempel. Tepat dibawah boncengan yang diduduki si gadis.
Srek..srek..sreeekk...
Srek..srek..
Srek..
Si gadis mencari bunyi itu berasal. Tengok kanan-kiri sebelah kaki-kakinya.
Srekk..
Srek..sreek.srekkk...srekk...
Roda masih terus berputar. Meski semakin berat kayuhnya. Si gadis berseragam merahputih merasakannya. waknya dengan sekuat tenaga, mempercepat kayuhnya. Dan...
Srekk..srek...srekkk,
Masih sering kali terdengar mengiringi kesunyian perjalanan mereka melewati perkebunan warisan milik salah satu warga dekat rumah mereka.
Tiba-tiba sampailah di perbatasan rel-rel mati.
Si gadis kecil pun turun.
Dan seperti biasa, ia ambil tangan kanan waknya, diciumnya seperti mencium tangan situa—kakeknya. Sambil berkata “ aku berangkat dulu ya! ” tanpa suara dengan mulut seperti orang kehabisan suara karena menyanyi atau banyak teriak atau bahkan seperti seorang tuna wicara.
Ia hanya menganggukkan kepalanya, mengijinkan gadis kecil pergi ke sekolah.
Matanya mengikuti langkah si gadis kecil di rel mati. Kosong.
Namun sebelum selesai melewati jalur rel mati itu, gadis kecil melihatnya sedang memutar sepedanya.
Dan pulang.
Ia waknya, si tuli—pak de kesayangannya. Anak pertama si tua.
Memunggungi si gadis.
Matanya berkaca.
Dan ia, si gadis berseragam merah-putih ini masih belum bisa membacanya. Lagi-lagi hanya bisa terdiam.
Ziarah ingatan. Begitu fahd djibran, penulis muda favoritku, mengistilahkannya. Akupun menyukai istilah ini. Kata ziarah biasanya kita gunakan untuk hal yang berkaitan dengan orang yang meninggal, kuburan dan sebagainya. Berziarah adalah mengunjungi kembali, mengenang, mendoakan mereka yang sudah tiada. Ziarah ingatan berarti mengenang kembali, bersilaturahmi lagi dengan kenangan yang tertinggal. Kata fahd, ziarah bukan saja mengenang bagi mereka yang sudah tiada. Kadang-kadang yang paling sering kita lupakan justru kenangan-kenangan indah bersama mereka yang masih hidup. Katanya lagi, kita bisa membuang ingatan, tapi kita tak bisa menolak kenangan. Sebab tak semua yang kita ingat akan kita kenang, tetapi semua yang kita kenang tersimpan baik dalam ingatan.
Si gadis berseragam merahputih kelas tiga itu, yang berambut merah karena sengatan matahari, yang selalu cemas akan keterlambatannya ke sekolah, yang selalu menunggu dua orang tua itu adalah aku, si empunya cerita original ini.
Kisah yang kuceritakan ini adalah bentuk ziarah ingatanku kepada dua laki-laki itu—lelaki yang juga aku cintai, selain ayah. Kalian berdua adalah darah daging ibuku. Bersama ibuku, kalian adalah ladang amal bagiku. Kenangan bersama kalian dan sepeda kumbang itu, takkan ku eliminasi dari sudut pikirku. Apapun yang terjadi selama bermetamorfosanya gadis berseragam merahputih itu hingga kini, baik-buruknya kalian berdua, tak jadi soal. Kalian tetap kuanggap laki-laki baik yang kukenal sejak kecil. Laki-laki baik . Tak lebih dan tak kurang. Kalian, Laki-laki yang juga masuk nominasi akan ku cintai sampai akhir hayat. ;-)
Sepeda kumbang yang baik hati. Terima kasih telah menyelamatkan ku dari terlambat kesekolah. Terimakasih juga telah menemani dua laki-laki itu mencari sesuatu untuk mengisi perut-perut mereka. Sesuatu untuk keluarganya dan sesuatu untuk yang mereka pelihara lainnya, kambing-kambing dan sapi milik orang. Terimakasih telah membuat mereka hidup sederhana, sesederhana dirimu. Tapi yang jelas, kau tak membuat hidup mereka sesederhana itu dimataku. Kau dan kedua laki-laki itu begitu kaya di hatiku.
Begitulah...
Dedikasikan untuk wak idris dan anang saleh, dua insan anak-beranak.
Kisahmu belum tuntas kuceritakan. Ini hanya sekelumit ziarah ingatanku malam ini.
cheers;-)
Wednesday, August 17, 2011
Rp.1000 Untuk Nasionalisme
Saya tak pandai berbicara tentang Nasionalisme sebetulnya. Judul itu hanya profokasi, kawan. Ups?!nggak juga sebenarnya. Jika kau tanya apa definisi tentang nasionalisme. Pasti saya hanya senyum-senyum saja. Iya, hanya senyum. Tengok kanan tengok kiri. Mencari jawaban? Ah, tentu tidak! Pertanyaan itu pasti saya biarkan liar terbang ke angkasa. Terserah angin yang mau membawa pertanyaan itu. jika sampai ke planet mars, semoga saja makhluk mars menemukan jawaban yang baik dan bijak. Haha..saya, terlalu beyond imagination! Saat ini, definisi atau sejenis puluhan untaian kata yang katanya menunjukkan makna nasionalisme itu tak penting buat saya. iya saat ini!
Maka dari itu, tentu saja saya nggak akan bicara nasionalisme dan teori-teorinya di sini dan saat ini.
Saya Cuma ingin cerita, haha;P...
Lebih gak penting sepertinya!hehee...
Ok lah, boleh gak percaya sama cerita saya! tapi bacalah untuk kali ini.
Begini...,
....sebuah bis angkutan umum melaju sepoi-sepoi seperti perahu layar sore hari. Seorang sahabat sedang berada di dalamnya. Ia sedang dalam perjalanan menuju blitar, ke rumah teman karibnya. Sepanjang perjalanan hanya diam mewakilinya. Melamun, khas anak perempuan ketika sendiri. Padahal di dalam bis begitu “ramai”. Selain penjaja makanan, penjaja korek-pisau dapur, pengamen hilir mudik, bergantian menghibur.
Perempuan itu masih melamun.
Penumpang lainnya, asyik dengan keasyikkannya sendiri. Penjaja dan pengamen yang naik turun, drastis tak memperoleh perhatian sedikitpun. Ada yang terhibur. Ada yang beli karena kasihan. Ada yang males. Ada yang ngantuk. Ada yang sumpek. Dan ada yang menggerutu, pengamen maneeh!!! ...ra mari-mari mulai mau!!
Sepi merambat.
Dan tiba-tiba lamunan perempuan itu dan penumpang lainnya terbuyarkan oleh suara seorang pengamen. Pengamen yang lainnya. Kali ini sipengamen tidak sedang menghibur dengan bernyanyi, tipikal pengamen-pengamen kebanyakan.
....
Suaranya tiba-tiba menggelegar. Memecah keheningan perempuan itu...
Mana, ada negeri sesubur negeriku.
Ia memulai performancenya.
Mana, ada negeri sesubur negeriku
Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung
Tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung
Perabot-perabot orang kaya di dunia, dan burung-burung indah piaran mereka,
berasal dari hutanku
Ikan-ikan pilihan yang mereka santap, bermula dari lautku
Emas dan perak, perhiasan mereka, digali dari tambangku
Air bersih yang mereka minum, bersumber dari keringatku
.....
Penumpang melongo. Seperti ada sesuatu yang menampar dalam dada-dada para penumpang. Perempuan yang melamun itu menggerakkan kepalanya ke kanan, mencari dimana posisi pengamen berada. Suara itu menghipnotisnya, agar memperhatikan si pengamen berorasi.
Pengamen melanjutkan. Kali ini begitu mendayu-dayu. Masuk kerelung hati perempuan itu.
Suaranya yang berat menambah aura magis orasinya.
Mana, ada negeri sekaya negeriku
Majikan-majikan bangsaku memiliki buruh-buruh mancanegara
Brangkas-brangkas bank ternama dimana-mana
Menyimpan harta-hartaku,
...
Negeriku menumbuhkan konglomerat
Dan mengikis habis kaum melarat
Rata-rata pemimpin negeriku dan handai taulannya
Ter K-A-Y-A di dunia
....
Suara pengamen itu sungguh menyayat. Merinding menyelimuti hati para penumpangnya. Ia menyadarkan hal yang paling mendasar sebagai warga negara atas kecintaan pada negeri ini. Ia menyadarkan ke”acuh”an kita pada masalah bangsa ini.
Si pengamen belum selesai, ia meneruskan dengan intonasi yang tegas.
Mana, ada negeri semakmur negeriku
Penganggur-penganggur diberi perumahan,
Gaji dan pensiun setiap bulan
Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan
Intonasi nya makin tegas dan galak.
RAMPOK-RAMPOK!
Diberi rekomendasi dengan kop sakti instansi
MALING-MALING! Diberi konsesi
Tikus dan kucing dengan asyik berkolusi!
.....
Ia mengakhiri orasinya.
Intermission.
Seperti pengamen-pengamen lain, setelah perform sipengamen mendekati satu persatu penumpang untuk “upah” menghiburnya hari itu. Ia mendapatkan berkah. Sebagian penumpang bis memberinya lebih dari standart pemberian seseorang kepada pengamen. Orasi si pengamen benar-benar menyadarkan.
Dan sahabat saya memasukkan uang Rp.1000 ke kantong plastik yang disodorkan si pengamen. Sepertinya ia tersentil orasinya. Orasi yang membangkitkan rasa nasionalismenya terhadap bangsa ini. Rasa yang telah lama terkubur debu berabad-abad. Namun hari itu, debu yang menutupi “rasa” itu seperti tersapu habis oleh angin segar dalam orasi si pengamen. Rasa itu menguat melebihi definisi apapun tentang nasionalisme. Rasa yang telah dihadirkan kembali oleh sebuah orasi seorang pengamen. Sebuah Orasi yang menyuruh kita untuk menengok kembali apa yang terjadi pada bangsa kecintaan kita ini.
Tengoklah!dan sisakan sedikit pedulimu!
Hah!
Haruskah kita membayar 1000 rupiah untuk membangkitkan jiwa nasionalisme kita? Seribu rupiah untuk cinta akan bangsa ini. Sebegitu hilangkah rasa nasionalisme itu didada-dada kita. Hingga harus membayar? Sepertinya memang iya!
Haruskah kita butuh seseorang yang menyadarkan kita, seperti “si pengamen” itu untuk sebuah rasa “nasionalisme” yang terpatri di dada-dada kita? Sepertinya memang iya!
Dan yang jelas, sebenarnya kita tak butuh definisi panjang tentang nasionalisme. Sepertinya memang iya!
Tidak lagi sepertinya?! memang iya!
Tak perlu berpanjang-panjang tentang hafalan nasionalisme.
Rasa.
Kita perlu merasakannya dan kemudian menyadarinya. Setelah itu bertindak, itu terserah kita! Dengan cara dan kemampuan kita.
Hah!
Entahlah!
Saya pun hanya bisa prihatin melihat ini. Lebih prihatin lagi pada diri saya, yang juga ternyata butuh “mereka” untuk menggugah kecintaan pada negeri ini. Hah! Ini adalah iman seorang yang lemah.
Kenapa saya tiba-tiba resah?
Resah melihat generasi saya, anak-anak muda hari ini, lebih memilih mengharumkan budaya bangsa lain di “rumah” sendiri. Saya resah kalau mereka (anak-anak muda hari ini) semakin menjadi peniru/penjiplak/duplicate, mengimitasi total budaya lain, dan menjadikannya tren di negeri sendiri.
Oh, pemuda!
Oh, pemudi!
Oh, boysband!oh, girlsband!
Lho koq?
Oh, koreanpop!oh,koreanpop!
Lho?Lho?!!!
Oh, mereka semakin menjadi-jadi dinegeri ini!
Saya lagi resah, tentang yang satu itu.
Untuk menjadi modern tak harus western kan? Modernisasi tak harus Westernisasi. Modernisasi Indonesia dengan cara Indonesia. Saya tahu, saya tak punya solusi riil tentang ini.
Hahaaa...(saya tertawa untk menutupi ketakmampuan ini:D)
Jangan percaya!
Cerita ini adalah pengalaman pribadi sahabat saya, mb.obib.
Saya terinspirasi dengan pengalaman “merinding” itu.
Orasi bercetak tebal itu adalah
Sebuah puisi milik M.Bisri, penyair kecintaan saya.
Untuk indonesiaku, kecintaanku.
17 Agustus, 2011.
Wednesday, August 10, 2011
Sepotong cerita tadi malam
Wajahnya mengisyaratkan kebebasan. Tapi tetap dengan kantung mata yang sedikit membesar, seperti belum sepenuhnya bebas. Pucat, tapi tak sakit sebenarnya. Ia tak ambil pusing dengan penampilannya tadi malam. Seperti biasa, tanpa make up. Berkaos hitam, berbalut jeans buluk. Dan entah sudah berapa hari tak dicucinya. Saya menyebutnya “preman kampus”. Hahahaa....(bercanda;-)
Nduk, saya menyebut si preman kampus itu, alias niken dalam kesehariannya.
Malam itu, ia dan kawan-kawan punya gawe besar. Merayakan sebuah kelahiran. Kelahiran bayi yang sudah 5 tahun dalam kandungan. Malam itu pecahlah sudah.
1800 detik jauh sebelum itu.
Lewat sebuah pesan singkat, ia memberitahukan sesuatu tentang kelahiran itu.
Memutar memori:cover2sas dan ideas
yang smpat terdokumentasi brderet
mwarnai dinding ruang tamu ideas.
Hari ini, brtambah lgi
satu wajah sampul ideas.
Kamipun ingin memutar memori,
brtemu dg wajah2 yang smpat
kami kenal jauh sblum itu.
Launching Tabloid
Mahasiswa IDEAS,
Edisi XIII,thn
2011. “Kriminal Bukan Sampah”
Aula fak.Sastra. Jam 18.00
Pemateri:-erdi setiaji, dosen psiko unmuh
-wachid sugiono, kpla kplp lapas kls IIa jbr
Matur tenkyu, terima kasih atas dukunganx.
(ini und bkn curhat;)-)
Detik itu juga, hati saya seperti tersiram air hujan. Terharu. Menyejukkan skaligus merinding bacanya. Kalimat-kalimat itu khas sekali, anak ideas. Kangen. Sayapun membalas,
Turut berduka, eh bersuka. Sudah lama sekali
Tak menerima good news sperti ini. Selamat atas
Kelahiran bayi kalian;-). Thn dpn pux baby lagi ya,hehee..
Ah, ahirnya kalian menerbitkannya.
You are still alive.
27 juli 20011. 19.00 Wib.
Saya membaca Salam Redaksi yang tertulis di tabloid edisi ini, sesaat setelah mengisi daftar undangan di dpn pintu aula.
Saya kutip beberapa paragrap.
Hard to say i’m sorry...
Januari 2010. Sedikit bocoran, kawan, itulah untuk pertama kalinya setelah menghabiskan waktu dan tenaga untuk reformasi kepengurusan, sisa-sisa awak kapal ideas berkumpul dan membincangkan Tabloid Ideas edisi XVIII. Kami menyebutnya rared, rapat redaksi, yang pertama. Kemudian 18 bulan setelahnya tabloid yang kami bincangkan saat itu, sebendel kertas yang terlalu lama hidup dalam ide kami itu (pada akhirnya...) sampai juga di hadapan anda. Maka sekarang, silakan!mungkin anda ingin tertawa atau bahkan mengumpat. Kami sudah tertawa dan mengumpat sebelum anda. Meski kami sendiri tak yakin akan makna tawa itu.
Atau mungkin ada yang berbaik hati menyimpan rasa simpatik, sambil garuk-garuk kepala bertanya keheranan: apa saja sih yang kami perbuat selama itu?
Tapi sepertinya kami tak akan membahas itu disini.
Tak ada pembelaan, penyangkalan atau apologi dari kami atas keterlambatan terbitnya tabloid ideas selama lebih dari satu periode kepengurusan, ditambah dengan 5 tahun kekosongan terhitung sejak Desember 2007, tahun dimana ideas masih sempat menerbitkan tabloid edisi ke XVIII.
Bukan karena kami merasa benar dan menganggap keterlambatan itu wajar, tapi tidakkah kita bosan dengan keterlambatan yang terus berulang dan (oleh karena itu) apologi pun melulu diucapkan, seakan semua tuntas hanya dengan satu kata maaf. Maka sudah ya, biarkan dia menjadi topik kita di warung-warung kopi saja, mungkin sambil mendengarkan musik dari Chicago.
...
Saya dan mb.shobib pun ikutan ngakak, tapi tak berani mengumpat!takut;-P
Musik akustik “rumah perempuan” terdengar , tepat saat saya dan kawan2 yang lain sudah memasuki aula. beberapa menit kemudian acara memasuki diskusi inti, Laput ideas 2011 yang menjadi headline besar. Seperti yang ia tulis dalam undangan smsnya, Launching Tabloid Mahasiswa IDEAS, Edisi XIII,thn 2011. “Kriminal Bukan Sampah”.
Kriminal Bukan Sampah, headline dalam cover tabloid edisi thn ini. Ketika disinggung oleh salah satu penanya, kenapa kalian (pers sastra) mengangkat tema ini sebagai laput. Bukankah ini adalah lahan dari anak pers hukum atau fisip paling tidak. Karena headline ini pasti akan berjibaku dengan hukum-hukum, aturan2, undang-undang yang tidak sama sekali ada hubungannya dengan sastra. Menurut si penanya, sastra itu mengkaji puisi, karya sastra atau yang berkaitan dengannya.
Pikir saya waktu itu, ah maklum saja si penanya bukan anak sastra. Kalau ia menganggap tema itu bukan ruang lingkup sastra. Wajar saja.
Tapi saya senang ia bertanya demikian. Karena akan memaksa niken dkk, untuk bercerita behind the story nya.
Sederhana sekali, jawaban niken. “ ide ini berawal dari sebuah tulisan “coretan bangku”, yang mana kita ketahui, bangku-bangku kuliah(kursi-kursi) di sastra masih menggunakan bangku kayu. sewaktu saya kuliah, tak sengaja membaca tulisan dalam bangku: “ Sastra: Memanusiakan Manusia”. Jadi kami ingin mengangkat sisi humanisme nya, bahwa kriminal bukan sampah masyarakat, tapi mereka justru bagian dari masyarakat itu sendiri.
Niken, wajahnya sumringah. Entah apa yang ia rasa malam itu.
Sepertinya ia harus berterima kasih kepada penulis coretan di bangku itu. Kalimat yang tidak asing bagi anak2 sastra sebenarnya. tapi bisa menjadi Inspirasi. Coretan bangku?!! “Semua” berasal dari coretan itu. Yah, walaupun tidak semua, paling gak secuil kalimat itu jadi sebuah gerakan atau harapan dalam penyelesaian ideas.
Saya teringat iwan fals dengan nyanyian falsnya yang berjudul “ coretan dinding”
Coretan di dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil
Tapi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan dinding, adalah pemberontakan
Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah
Ditiap kota cakarnya siap dengan kuku2 tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya
Musuhnya adalah penindas
yang mengganggap remeh coretan dinding kota
Coretan dinding terpojok ditempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama-sama resah
Coretan dinding terpojok ditempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama-sama resah
Entahlah, tapi saya tidak tahu apakah si pencoret versi inspirasi niken ini sedang mengalami keresahan atau sedang ingin eksis? Atau bisa jadi dia benar-benar resah tentang sastra—khususnya laku warga sastranya/fak.sastra, saat ini yang tak semakna dengan kalimat yang ia tulis?!!atau pikirnya manusia semakin saja tidak peduli dengan peri kemanusiaannya?? Entahlah!!!! Hanya si pencoret yang tahu.
Meski beda makna dengan nyanyian fals iwan, tapi yang jelas coretan bangkunya membuat si pembaca coretannya (niken) lebih resah, membawanya sebagai perenungan kecil paling tidak. Niken, Seperti kucing hitam yang menganggap coretan bangku itu adalah sebuah “pemberontakan/gerakan”, yang menyentil sisi kemanusian kita yang sudah keterlaluan. Ia mengingatkan kita.
Keresahan itu membawa berkah ternyata,haha...
Itu sepotong cerita tadi malam.
Selamat sekali lagi buat kalian dan bayinya;-)
28.07.11
cheers;)lagi!
Monday, April 25, 2011
the end of story, NEKAD
Mobil iring-iringan terus melaju.
Yang tidak saya sangka adalah, saya dan niken ikut andil dalam penyerahan ketum kepihak keluarga suami. Saya tak hanya sekedar numpang pulang dengan mobil iring-iringan tersebut. Namun Kami juga menjadi saksi hidup prosesi sekhidmat itu.
Ah, tuhan. Ada saja caraMu mengajarkan hambanya dalam membaca sesuatu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 5-6jam, Dan tibalah kami disebuah rumah, dimana mas asfin, suami ketum, tinggal.
Dari dalam mobil, kira-kira berjarak satu-dua meter dari depan rumah ms.asfin, saya melihat janur kuning melengkung.
Dua Lengkungan janur kuning membentuk huruf U terbalik diletakkan tepat dipintu tenda, yang dibuat oleh tuan rumah untuk menyambut sepasang pengantin dan rombongannya.
Tiba-tiba, saya nyeletuk,” lho tum katanya gak ada acara”. Dan ketum menjawab, surprise!
Sepertinya ketum tampak lebih surprise ketimbang saya.
Jangan membayangkan penyambutan besar-besaran seperti pada umumnya. Dirumah ini juga sederhana. Namun tak kehilangan sakralnya.
Dan kamipun, rombongan, turun dengan membawa seserahan dari pihak perempuan. Kemudian diikuti ketum dan sang suami.
Limabelas menit kemudian, dimulailah prosesi penyerahan ketum kepihak keluarga laki-laki.
Prosesi berjalan khidmat.
Selesai.
Ketum pun ditinggal rombongan.
Dan saya juga niken, tak ketinggalan saddam berada dalam perjalanan berikutnya. Bis melaju kencang meninggalkan semua yang tertinggal dikencong.
Dalam bis, saya memutar lagu wild world nya Mr.Big dan saya ikut bernyanyi…
Now that I've lost everything to you. You say you want to start something new.
And it's breaking my heart you're leaving. Baby I'm grieving.
And if you wanna leave take good care. Hope you have a lot of nice things to wear. A lot of nice things turn bad out there. Oh baby, baby, it's a wild world. It's hard to get by just upon a smile. oh baby, it's a wild world. I'll always remember you like a child girl.
Kebisingan menyeruak dari dalam knalpot bis,
Membawa kami Pulang dalam diam.
Sambil membungkus rapi sebuah cerita.
Cerita, yang akan saya kisahkan, pada siapapun.
….
….
Dan saya akan terus berimaji, sampai ayah saya menyanyikan lagu ini buat saya,
You know I've seen a lot of. What the world can do
And it's breaking my heart in two. Coz I never want to see you sad girl
Don't be a bad girl.
But if you wanna leave take good care. Hope you make a lot of nice friends out there. Just remember there's A lot of bad and beware.
baby I love you.
***
Perjalanan yang melelahkan.
Bagi ketum, “perjalanan” nekadnya benar-benar melelahkan. Langkah berani yang sudah kau ambil akan kami tiru, tapi entah kapan?!!!;-)
Bagi kami bertiga, nanox, niken dan nurong, perjalanan nekad 2 hari itu memang melelahkan tapi tak membosankan.
What and where is the next journey girls?!!!!!
See ya!
Heheee….
lanjutan cerita NEKAD
Hampir satu jam perjalanan dengan bela, dari kejauhan ada perempuan berkerudung sedang melambai-lambaikan kedua tangannya. Sosoknya, tak asing bagi mata kami. Ketum berdiri satu meter didepan becak kami sambil tak hentinya senyum mengembang menyambut kami.
Ah, ketum….you look beautiful with that dress….;-)
Kata itu tak sempat saya ucapkan, saat melihatnya menggunakan dress panjang cantik warna putihtulang, dengan motif lucu. Sumringah menyambut kami. Saya tersepona…eh, terpesona….kamu cantik pake gaun itu tum!sumpah?!! sayang, saya tak sempat memotret diri bersamanya menggunakan gaun itu.
I loved your dress.
Aura pengantin terlihat diwajahmu;-)
Sederhana tapi cantik.
Tak berlebih. Cukup buat saya yang memandang.
Gara-gara terpesona melihatmu. Mas asfin, tak terlihat sama sekali…hehee..sumpah!sampe’ gak iling karo mas asfin yang ada disebelahmu tepat. Maapin aye ye ms.asfin…heheeheee….
***
Nyampek rumah ketum, tepatnya saya tak mengingat jam berapa. Yang jelas waktu ashar hampir mendekat.
Rumah sederhana nan cantik, yang tak menggambarkan keangkuhan pemiliknya. Entah kenapa saya menyukainya. Penuh tambak ikan disekelilingnya. Depan belakang, samping kanan-kirinya.
Jembatan kecil dari bamboo yang menggantung diatas sungai didepan rumah ketum, menyambut kaki-kaki kami menuju rumah mungil nan sederhana itu.
Didepan rumah, duduklah seorang anak laki-laki, masih muda, terlihat berantakan, dengan rambut poni menggantung hampir menutupi matanya yang sipit. Yang kemudian baru saya tahu, dia adalah si saddam, adik bungsu ketum. Alah mak… ini dia wajah yang jadi perbincangan kami selama ini.
Untuk yang satu ini saya tak bisa bercerita banyak karena memang belum benar-benar mengenal sosoknya. Kata nanox, adik ketum ini unik mbak…!!! Sayapun meng-iyakan, dan berkata dalam hati “ada penerus zaki, nox…hehee..
Hanya sebatas itu.
***
Suasana akad nikah sudah lewat. Tak ada resepsi. Semua selesai dalam satu hari, jum’at 25 maret 2011. Meski sedikit, suasana pernikahan ketum masih saya rasakan. Memang tak ada janur kuning melengkung di hari dimana kami tiba dirumahnya. Tapi hiasan kertas klobot yang menyilang menghias teras depan rumah, masih belum dilepas. Ada beberapa makanan khas pernikahan yang disuguhkan buat kami, masih sempat kami cecap. Setidaknya, saya merasa bahwa kemarin benar-benar ada acara besar buat ketum. Ketum sudah sah milik orang lain. Bukan lagi tanggung jawab ayah dan ibu.
Kamipun seperti tamu pada umumnya.
Bertamu.
Saya berkata pada niken, ah tak menyangka, kini giliran kita nduk…, yang melakukan aktifitas bertamu ala orang tua, menghadiri undangan pernikahan teman dan aktivitas sejenisnya yang dulu ketika kita masih kecil, aktivitas itu hanya milik para orang tua semata. Tak terasa uda sampai pada giliran kita. Arrrrrrrggggggghhhhhh!!!!tidaakkkkk!!!!
Kenapa begitu cepat!
Kamipun menginap semalam.
Disela-sela menjelang magrib, kami sempat ngobrol kecil bersama ayah dan ibu ketum. Si ibu berceletuk, “…yah seperti ini lah rumah kami mbak…, cicik menikah sederhana. Tidak dirayakan besar-besaran. Karena tepat maret satu tahun yang lalu, kakaknya menikah. Dan cukup besar-besaran, katanya sambil merem-melek menahan pusing dikepalanya.
“…nggak enak sama tetangga. Masak baru saja menikahkan anaknya pertama, mau mengundang tetangga lagi untuk pesta pernikahan anak keduanya. Cicik itu nekad mbk! Sama seperti saya.”
Saya dan niken cuma bisa tersenyum mendengar ibu bercerita segamblang ini kepada kami. Kata nekad terngiang ditelinga! Dalam hati, ya allah…, Ketum, aku salut untuk itu. Nekadmu dengan nekad kami memang berbeda. Nekadmu untuk berjihad. Dan kami tak berani, menyebut kenekad-an kami sebagai “jihad”. Entahlah aku bingung untuk mengistilahkan kenekad-anmu. Tapi yang jelas, kami tak perlu bingung, berbahagia untukmu.
Melihat ibubapak, tak asing mata saya. Seperti yang sering ketum ceritakan kepada saya. Ayahnya seperti ini, ibunya seperti itu, adik-kakak seperti ini itu, dan bla..bla..bla..bla…
Seperti itulah yang saya lihat, apa adanya. Begitu pula dengan ketum. Apa yang saya tahu dan saya lihat tentang diri ketum dijember, baik sifat, karakter; seperti itulah yang terlihat dimata saya ketika berada di lamongan. Tak ada bedanya. Tak munafik.
Jika ada yang bilang demikian.
Ia, hanya belum mengenalnya saja.
***
Perjalanan selanjutnya.
Pulang.
Kami siap-siap mulai jam 03.00 pagi.
Saya dan niken ikut rombongan ketum dan keluarga ke kencong-jember. Saya dan niken menjadi salah satu pengiring seserahan pengantin perempuan yang sudah diminta pihak laki-laki.
Dan saya harus berpisah dengan nanox. Lagi. Entah untuk berapa lama. Saya tidak tahu. Semoga Tuhan melalui menitnya masih menyimpankan kesempatan bertemu lagi. Saya tahu, saya lebay. Saya mengakui itu;D saya sempat berpikir waktu itu, kalau bertemu itu menyenangkan, kenapa harus berpisah. Saya lebay lagi!wakakakkak….
Tapi jujur, entah apa namanya, saya tidak tahu kenapa menjadi demikian.
Sempat juga saya berpikir; jangan-jangan ini adalah perjumpaan terakhir saya dengannya setelah jeda begitu panjang. Akankah ada jeda yang panjang. Lagi? Untuk pertemuan kedua?haha lebay meneh! Bukan hanya nanox, tetapi sahabat-sahabat lain yang sekarang ada disekitar saya, atau sahabat lain yang sekarang tak ada disekeliling saya, juga harus saya “tinggalkan” dan atau ditinggal mereka secara fisik. Sama-sama meninggalkan. Entahlah, pada akhirnya siapa ditinggal siapa dan siapa meninggalkan siapa?Aaaaaarrggghhhh!
Hahaha..saya sudah keluar jalur dari alur cerita.
Maap ye!
Focus. Tiba saatnya saya berpisah dengan nanox di sebuah jalur macet porong. Kami bersalaman sambil berpelukan. Dan sengaja, ia, saya peluk lama. Sebuah preclosing dari closing yang sebenarnya.
Dan kamipun benar-benar berpisah. Saya melihatnya nyata, berada diluar mobil yang kami tumpangi. Goodbye. Closing sesungguhnya.
Hahahaa,….nurong lebay!kata ketum.
Ah, ketum semakin tebal saja air mata saya. Tak tahan untuk tak jatuh!!! Benar-benar lebay.
Saya harus menerima. Denting perpisahan sudah berbunyi. Harus segera diakhiri. Seperti palu hakim yang diketuk, tak bisa diganggu gugat. Saya dan nanox harus jeda lagi.
Dan perjalanan terus berlanjut.
***
NEKAD
(Sebuah Perjalanan:niken,nanox dan nurong)
NEKAD. Perjalanan ini saya namai. Kenapa saya bilang nekad. Karena alasan-alasan terwujudnya perjalanan ini pun tak kalah nekad.
Begini awal ceritanya; ada sebuah kabar bahagia dari salah seorang sahabat dan sekaligus kakak perempuan bagi “adik-adiknya”, termasuk saya didalamnya. Kabar bahagia itu adalah dia akan menikah. Bagai burung perkutut, kami—adik-adiknya, berkicau sana-sini. Berisik. Dan sangat berisik. Kami tak percaya!mungkin itu makna kicauan kami. Maklumlah,, bagi kami, dia sangat cepat dan berani memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya. Khususnya bagi kami yang tahu, meski sedikit, tentang kakak kami tercinta ini. Dan bagi kami ini keputusan yang sangat cepat, meski saya akui itu hanya sepenglihatan mata kabur kami. Tapi mungkin bagi dia, yang tak tertangkap oleh kami, adalah sebuah penantian yang cukup lama dan penuh cerita. Seperti kata Tolstoy, Tuhan maha tahu, tapi DIA menunggu. Menurut saya, kali ini tuhan tak menunggu lagi, DIA menjawab.
Ketidak percayaan kami, saya khususnya, sirna ketika dia menjelaskan sendiri perihal pernikahannya yang akan segera dilaksanakan. Sambil tersipu, dia mengundang saya.
Ah,ketum…. (begitu saya memanggilnya)
Saya terharu, bahagia.
***
Setelah mendapat kabar itu, saya langsung memberitahu sabahat saya yang lain, , mengenai kabar ini. Seperti saya, iapun sock. Meski pada akhirnya, iapun mempercayai ketidakpercayaannya. Seperti kalimat yang ia tulis, “ masa ketum sudah tiba mbak….,”. dan ketidakpercayaannyapun luluh ketika ketum pun mengabarinya.
Dan kami pun, mulai menyusun agenda keberangkatan kami. Lamogan adalah tempat siketum akan melangsungkan pernikahannya. Saya dengan dua teman, yang juga sahabat dekat ketum, niken dan mb.obib—antusias dengan rencana perjalanan ini. Ketum sangat special buat kami, itu juga yang menjadi sebuah alasan kenekatan kami pergi ke Lamongan. Daerah yang belum pernah saya dan niken hampiri. Lamongan masih sebuah imajinasi dalam kepala kami. Tapi untunglah, mb.obib pernah sekali ke rumah ketum, lamongan. Jadi saya bersyukur, ada yang jadi penunjuk jalan diantara kami.
Rencana awal, kami akan berangkat hari jum’at, 25 maret 2011, hari H pernikahan ketum. Saya dan yang lainnya akan berangkat dari jember jam 05.00 pagi dengan kereta logawa. Dan menurut perkiraan, kami akan sampai dirumah ketum jam 13.00 wib. Meski tidak melihat ketum ber-akad, Paling tidak—kami tiba pada hari H, dimana ketum menikah.
Seminggu sebelum pernikahan ketum, rencana berubah. Kami tidak jadi berangkat pada hari jumat. Karena, si nanox masih ada jadwal kerja. Dan kami putuskan, hari sabtu, sehari setelah akad nikah. Niken, mb.obib dan saya sangat antusias ke Lamongan.
Man proposes, God disposes. Manusia berencana, Tuhanlah yang berkendak. Rencana berubah lagi. Kali ini bukan jadwal keberangkatan. Dua hari menjelang keberangkatan kami, sebuah pesan diterima niken “….ada sesuatu yang tak menyamankan perjalanan kita…”, bunyi sms mb.obib. Saya dan niken harus menerima kenyataan ini. Kenyataan dimana, kami berdua pergi kelamongan tanpa mb.obib, sipenunjuk jalan. Mb.obib harus pulang ke banyuwangi. Ada urusan sangat penting. Kami berduapun, pada akhirnya, menerima alasan itu meski dengan wajah murung. Alasan itu penting bagi mb.obib, tapi semangat kenekatan 100 persen yang kami bangun untuk pergi kepernikahan ketum, jauh-jauh hari, sedikit kehilangan nyawa. Tapi saya nggak mau menghentikan semangat ini. Pikir saya, sudah cukup bersusah payah meyakinkan diri untuk tetap pergi kelamongan. apapun yang terjadi, tetap pergi ke lamongan…hahaa, keukeeh nekad!!!!
***
Dan jadilah hanya saya dan niken yang berangkat dari jember, dan seorang teman yang menunggu di st.Sidoarjo. Hanya kami bertiga. Cewek-cewek. Tanpa pejantan dan penujuk jalan. Berbekal sebuah peta buta amatir, yang saya buat berdasarkan penjelasan mb.obib.
Dan jadilah, jam 04.45 subuh, saya dan niken menuju st.jember. Berdua bersepeda motor. Tak pikir panjang, sepeda motor dititipkan, dan kami langsung antri tiket. Dan kereta berangkatlah sudah. Saya dan niken, mengawali perjalanan nekad ini dengan senyum mengembang dan berselimut awan tebal, berkabut. Dingin. Lamongan kami akan menjumpaimu!;D
Tepat pukul 08.45 saya dan niken berhenti di st.Sidorajo, menemui seorang sahabat lain yang ikut rombongan kami (rombongan?!!!hahahaa…).
Meski tidak ada hubungannya dengan acara pernikahan ketum. Saya ingin menceritakan sahabat lain saya, yang satu ini. Nanox, saya memanggilnya. Kami—saya dan dia sudah cukup lama tak bertemu. Wajar, jika saya terharu ketika melihatnya kembali untuk pertamakalinya di st.Sidoarjo. Saya tak bisa menahan mata berkaca-kaca. Dan terjatuhlah, serta senyum yang mengembang tak hentinya. Saya dan dia cukup lama jeda berkomunikasi. Hanya sesekali saja. Tak intents seperti dulu. Ini mungkin yang membuat saya terharu, jeda panjang dari yang namanya ketemu dan ngbrol ngalor-ngidul bareng. Seperti katanya dalam sms, yang berbunga-bunga bertemu saya. saya pun demikian. Dan kamipun lebay……hahaahahaaa…
***
Rute selanjutnya adalah ke terminal bungur (surabaya) dengan kereta komuter dari st.sidoarjo. 15-20 menit kemudian kami sampai depan terminal Bungurasih. Tak lama menunggu, kami sudah berada di dalam bis arah semarang-lamongan. Menurut peta yang saya bawa, kami harus turun di lamongan Plaza. Kemudian naik transportasi yang bernama BELA.
Ini dia yang saya tunggu-tunggu. Si BELA yang dalam bayangan saya, adalah sebuah bis antar kota atau angkutan mewah dari lamongan. Ternyata kami bertiga tidak ada yang tahu satupun bagaimana bentuk BELA, dan apa singkatan Bela itu sendiri. Sampai di depan pintu keluar Plaza lamongan, kami kebingungan mencari si Bela. Panas yang menyengat tanpa ampun, tak menyurutkan kaki-kaki kami mencari bela. Dan akhirnya, kami menemukan Bela yang mojok didepan pintu Plaza. Bela…oh…bela… ternyata kau sebuah becak bermotor. Bela—becak Lamongan. Bela…oh…Bela…. Imajinasi saya tentangmu pun sudah terbayar nyata. Bela…oh..Bela….bentukmu tak secantik namamu. Bela…oh…bela…merananya dikau…..;P
Tawar-menawar harga pun terjadi. Kata ketum, patok harga 25-30 ribu rupiah. Kami menawar 30ribu desa banyu urip untuk tiga orang.
Si driver menyapu wajah kami bertiga, dan kemudian berkata, 45ribu!
Si nanox menawar. 30 pak?! Ya?!
45?!! Kata si driver.
30, pak!
Gak boleh mbak, 45!!! Jalannya susah mbk!
35 wes pak, kata nanox.
Sambil terpaku memandang kami, Ia pun sepakat. Tawar-menawar berakhir. Dan kami bertiga segera menaiki si Bela.
Sepanjang jalan, tak hentinya senyum mengembang. Cengengesan melihat tingkah-pola kami bertiga sendiri, yang duduk bertiga di atas becak lamongan. Bersempit-sempit ria. Untunglah badan kami kurus dan kecil. Minimal sibela tak merana kami duduki…hahaa….
Bela, Alat transportasi unik yang tak terbayangkan sebelumnya oleh pikiran kami. Menyusuri jalan sedikit berbatu, sedikit becek, sedikit tak beradab. Dan sedikit keberatan memuat kami, sibela dengan tanpa mengeluh tetap membunyikan mesinnya. Tak rewel ditengah jalan berbatu dan sedikit menanjak.
Eh…tapi lebih tak beradab menyusuri jalan rumah nyun…heheee.. (waah jadi inget si nyun ; andai nyun ikut! Dan anak-anak ideas yang lain juga ikut, pasti mereka malu naik Bela…hihihiiii). Mengko dadi kemayu la’an. Jalan menuju desa banyu urip, rumah ketum, masih cukup lumayan beraspal halus. Dan tak serepot jalan menuju rumah nyun, haha…nyun maneh;P hihihi…
Satu lagi, Disepanjang perjalanan menuju rumah ketum, yang tak kan ditemui di daerah manapun, tambak-tambak ikan terhampar luas di kanan-kiri jalan. Seluas mata memandang, disitulah tambak berjejer rapi nan hijau. Hampir setiap rumah, memiliki area pertambakan. Sepertinya, lamongan salah satu kota pengahasil tambak terbesar di negeri ini. Jalan tak beradab jadi tak terasa karena pemandangan langka ini. Sebanyak apapun polusi disana, tak kan dapat mengotori udara yang kita hirup, pikir saya. Masih benar-benar asri, meski panas menyengat.
Subscribe to:
Posts (Atom)