Monday, April 30, 2012

CARRIER IS MORE THAN A JOB: Your Journey to be the #ULTIMATEU




Hari ini adalah besok yang Anda khawatirkan kemarin. SEKARANG adalah saat yang terbaik untuk menguangkan passion Anda. (Ren Suhardono)


Baca, saya suka. Buku apapun pasti saya lahap habis. Tapi ada satu buku yang bikin saya alergi, yakni  buku tentang pekerjaan dan managemen pekerjaaan, bagaimana menjadi pegawai yang baik, yang cerdas, dan yang yang yanglain. Pokoknya buku yang mengulas hal-hal demikian membuat saya cepet bosan. Biasanya saya langsung underestimed, kalau ketemu buku yang berbau-bau dengan urusan yang satu itu.
Tapi kali ini saya kena batunya.

Saya ‘bertemu’ dengan sebuah buku yang berjudul “Your Journey to be the #ULTIMATEU”. Saya Tertarik pada penglihatan pertama. Cover bukunya silver mencolok. Bisa buat bercermin. Pikir pertama saya, adalah buku tentang motivasi hidup. Bukan buku yang mengulas tentang pekerjaan.
Kemudian saya membaca profil singkat si penulis.

RENE’ SUHARDONO adalah public speaker, penulis, social entrepeneur, career coach, dan penikmat kuliner dan jalan-jalan. Menulis kolom UltimateU di Kompas Sabtu sejak 2010.  Memulai program radio CareerCoach di 87.6 Hard Rock FM Jakarta sejak 2007 dan menulis buku laris Your Job is Not Your Career. Pendiri ImpactFactory. Colek Rene di twitter:@ReneCC.

Carrier coach? Apa itu?!! 

Saya tak paham.

Baca endorsement buku, dari pak Anies Baswedan “ Rene menghancurkan “berhala” (baca:mitos) soal pekerjaan dengan konsep besarnya tentang karier. Rene membangunkan, ia seperti mengguyurkan air dingin di kepala: halo, ada yang lebih besar dari sekadar kerja!”

Tulisan itu mulai mempengaruhi harta terbesar saya—hati. Alhasil saya pun langsung membelinya dan segera melahapnya satu persatu bab.

Rene mengawali tulisannya dengan pertanyaan : ARE YOU LIVING A LIFE THAT MATTERS FOR YOU?

WHAT’S YOUR TRUE STRENGHT*?

Menurut Rene TrueStrength atau KekuatanHakiki tidak terkait dengan latar belakang pendidikan, pengalaman atau bidang keahlian yang Anda geluti saat ini. TrueStrength adalah kombinasi PASSION dan PURPOSE Anda. 

Rene bilang, anda tak harus menjadi seseorang (bekerja sebagai) yang sesuai dengan kodifikasi profesi yang ada. Jika tak ada yang sesuai dengan passion-potensi anda, jangan ragu untuk membuat nama ‘pekerjaan’ anda sendiri. 


  

Rene telah berhasil membuat saya terpaku, mengevaluasi, meyakini keyakinan hati saya melalui analisa tajamnya tentang pekerjaan dan hidup. Yang menarik buat saya dalam buku ini adalah karena Rene menggunakan kata PASSION, yang kata Rene’ tak bisa dipisahkan dengan diri (sendiri). Bahwa apa yang kita lakukan harus ber-passion, sesuai apa yang hati kita inginkan. Katanya lagi, tanpa passion semua aktivitas hanya sekedar untuk pemenuhan kebutuhan minimal memperoleh gaji, pangkat, fasilitas kerja dan atribut lain.  Jika hidup dan potensi jujur dalam diri hanya digunakan untuk hal-hal kecil itu, maka rugilah diri dan hidup saya.  Tidak ada desakan dari dalam diri untuk terus menerus menjadikan diri lebih baik.

Your Passion is not What you’re good at but it is what you enjoy the most.

Passion adalah anak tangga pertama sebuah perjalanan karier. But your carrier is not your job. Jangan menyamakan pekerjaan dengan karier. Pekerjaan adalah alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dan alat bagi individu untuk terus tumbuh sebagai pribadi dan profesional. Siapapun bisa dipecat dari pekerjaan, namun tak akan bisa dipecat dari karier. Karena Your carier is yours, your career is you. Carrier is more than a job. It talks about you, your life,  your contribution to others and it talks what you enjoy the most.



 
Pertanyaan kedua yang ia ajukan adalah: WHAT’S YOUR CONTRIBUTIO AND IMPACT?

Kontribusi adalah manfaat nyata yang dirasakan orang selain diri sendiri atas eksistensi diri. Kontribusi optimal tercipta saat seseorang bekerja, berkiprah, dan berkarya di dalam TrueStrenght sepenuhnya. Dan Impact adalah intensitas kedalaman dan sebaran setiap kontribusi yang diberikan.

Life is meant for living. Kehidupan sering kali disalahkaprahkan dengan “persiapan menjalani kehidupan” (hal.44).  sebagian besar manusia tergesa-gesa mengejar “kesuksesan” tanpa merasakan kehidupan itu sendiri. Padahal the process to get, there is more valuable than actually reaching the destination. Hasil (kebahagian yang dicapai) adalah bonus, tak “sepenting” kita menjalani proses menuju yang kita “inginkan”. Dengan “menikmati” sebuah prosesnya kita akan belajar. WE LEARN. 

Belajar kapanpun, belajar dar siapapun, belajar dari apapun mutlak diperlukan dalam proses bertransisi dari pengetahuan menuju pemahaman dan akhirnya, kepedulian.

Apalah arti kita, jika Nyawa yang tuhan beri, oksigen yang kita hirup secara gratis dan potensi diri yang ada dalam diri, kita gunakan pada hal-hal seadanya, pragmatis, karena kebutuhan yang standar atau kebahagian jangka pendek, misalnya dapat gaji besar, bisa beli mobil, beli rumah dan materi2 yang lain.  Tapi setelah itu apa? Apakah yang anda lakukan ada ‘kontribusi’ untuk orang lain. 

Terakhir Rene bertanya: DO YOU CARE?


DO WE NEED PERMISSION TO BE SUCCESSFUL & HAPPY?
JUST DO WHAT YOU LOVE ON YOUR OWN TERMS
AND GREAT MONEY WILL FOLLOW YOU


THINK LESS FELL MORE, WORRY LESS DO MORE
                                                                                    

Tuesday, April 24, 2012

KEROYOKAN: Rumah Baca Tanpa Nama


Minggu pagi, mereka telah berkumpul dirumah saya.
Seperti biasa, untuk belajar dan bermain.
Tapi kali ini mereka kepagian.
Sangat pagi.

Mereka semua masih belum mandi. Mereka berkumpul karena saya datang.
iya..saya datang menemui mereka. Baru semalem saya tiba dirumah, dari jember.
Minggu ini rencana nya mau outbond lagi. Tapi karena beberapa alasan, kami tidak bisa merealisasikannya.

dan inilah yang kami lakukan, setelah mereka pergi mandi di sungai.
Untuk mengganti planning anak-anak ke hutan...
Kami berkeroyokan....






Makan keroyokan. Diatas daun pisang berisi  nasi putih, mie goreng, telur dadar dan sambel istimewa. eh tak lupa kerupuk, makanan kesukaan kami seluruh rakyat Indonesia. Kami sangat-sangaaaaaaaaaat menikmati.

Setelah itu...
Taraaaaaaatttt.....


Buku "anak-anak" pertama : Rumah Baca Tanpa Nama









Sejak lima bulan lalu, pertemuan kami (saya dan sahabat kecil) di rumah baca tanpa nama, ini adalah hari pertama mereka membaca buku "genre" anak-anak. Buku ini adalah buku pertama yang saya beli buat mereka. saya senang mereka antusias belajar membaca...

Sahabat.
Sahabat Kecil, tolong tetaplah seperti itu, antusias, dan terus menggeliat your coriousity agar mimpi saya melihat kalian di usia 20 tahunan dan kalian sudah menjadi apa yang kalian inginkan, terwujud.

Sahabat...
Berangan-anganlah merangkai masa depan. 
Berlarilah Mengejar mimpi. 
Dan jangan kau hentikan langkah kecil kalian dalam mewarnai jutaan mimpi di bumi.








foto by niken.






Monday, April 23, 2012

Menjumpai Anies Baswedan nyata, hari ini




Hari itu 21 April 2012. Jam 07.45. saya akan memvisualisasikan imajinasi saya “bertemu” dengan pak anies baswedan.
Who?
 Anies.
Anies baswedan? Iya, dia.
Pertemuan Ini sudah saya persiapkan sejak setengah bulan lalu. sejak saya menerima sms :

“Ikutilah! ROAD SHOW INDONESIA MENGAJAR menghadirkan Anies Baswedan, Ph.D dan para pengajar muda 21 April 2012 di Gd.New Sari Utama. HTM: Mahasiswa: 30rb, Umum:35rb. Awali langkahmu dengan mengajar;-) by HIMAFI Neutron(Pend.Fisika FKIP Unej)”

3 April yang lalu.

Atau sebenarnya, mimpi ingin bertemu dengan nya sejak saya menulis tentang pak anies yang berjudul “ Saya jatuh cinta pada Anies Baswedan”, tulisan yang saya post bulan maret lalu. 

Ah hari ini... 

Hati saya begitu tenang. Wajah pak anies yang begitu bersahabat selalu nampak depan mata.
Saya tenang. Begitu tenang. Hati saya entah begitu bersahabat sekali. 

Hari ini...

Iya hari ini, saya akan bertemu idola saya itu. 

And finally...

Gd.New Sari Utama saya masuki. Then, you want to know, how many people were in the hall? 750 peoples. 

Wow!!

Gak nyangka, orang-orang ini juga mengidolakannya.
Sosok dan energi kebanggan pada bangsa ini benar-benar telah menyebar di negeri ini, tak terkecuali ‘negeri kecil’ bernama Jember. Ia memenuhi undangan anak-anak HIMAFI (Himpunan Mahasiswa Fisika) FKIP Jember sejak lima bulan lalu. 

Mengenai HIMAFI, Saya salut sekaligus iri pada anak-anak ini. Itu saja.

Terimaksasih atas segala apa yang kalian usahakan selama lima bulan perencanaannya, sehingga acara tersebut terselenggara. Dan sehingga, saya pun bisa ‘menyelenggarakan’ mimpi saya bertemu dengan pak anies.

Ah mungkin saya terlalu berlebihan. Tapi saya benar-benar ucapkan terimakasih buanyak;-)

...

Didalam hall...
Entah kenapa, saya merasa aura positif dan atmosfir yang menginspirasi di dalam hall ini begitu terasa. Saya merasakan energi yang sama. Energi kebanggaan. Energi spirit yang luar biasa yang ditularkan oleh tokoh kecintaan saya ini. Energi muda, keyakinan, dan kebanggaan pada negeri ini. Percaya bahwa, anak-anak muda saat ini (negeri ini) yang akan berjuang melunasi janji kemerdekaan yang telah terucap dan tertulis kan di ‘buku sumpah’ para pejuang, para pendiri negeri ini. 

...

Jam 9.00, si presenter acara, memulai acara talk show dan sosialisasi program “indonesia mengajar”. Dan sekarang lah waktunya, pak anies dipanggil maju ke atas panggung, untuk memulai menginspirasi kami, semua yang ada di hall new sari utama ini.

Ah...

Mata saya mencari-cari sosoknya. Kebetulan saya duduk paling belakang, jadi saya tak melihatnya dalam kondisi yang sangat dekat.

Tapi saya melihatnya berdiri. Tersenyum dan berucap salam...

Sungguh, akhirnya saya benar-benar melihatnya disini, di jember. 




Melihat segala gerak, ucap dan pesan yang ia sampaikan secara komplit. Saya merasa telah benar benar mengenalnya selama ini. Seperti di tulisan-tulisannya yang saya baca, seperti ucapan-ucapan, komentar-komentar, dan analisanya tentang negeri ini, tak ada yang berbeda. Semua tetap menginspirasi. Ia benar-benar tokoh muda yang berpengaruh di negeri ini. Ia benar-benar telah meng’injeksikan’ kepercayaan pada anak muda,seperti saya, untuk bangga dan yakin bahwa perubahan bisa dilakukan dan semua itu ada ditangan kami. Indonesia mengajar hadir bukan untuk menyelesaikan persoalan pendidikan yang begitu njelimet dan complicated. Gerakan Indonesia mengajar hadir untuk memvisualisasikan mimpi-mimpi anak-anak pelosok negeri. Pengajar muda hadir untuk menginspirasi mereka yang terisolasi pendidikan yang berkualitas. Anak-anak muda ini hadir untuk menenun kebangsaan pada anak-anak untuk menggali   kembali karakter bangsa yang kita miliki,  secara sederhana di seluruh pelosok-pelosok negeri. Pengajar muda akan terus mengabarkan kepada dunia tentang ‘kekayaan manusia’ yang dimiliki negeri ini. 

Pak anies mengungkapkan, bahwa anak-anak muda saat ini, zaman ini harus memiliki dua karakter dahsyat yakni : world class competence dan grass root understanding. Bahwa anak muda harus  bisa perperan dimana saja. selain ia punya kompetensi/skill berkelas dunia (akademik), ia juga harus mengerti tentang permasalahan domestik negeri sendiri. Mereka mengerti permasalahan di tataran bawah (rakyat) dan terjun langsung ke bawah, merakyat. Itulah anak-anak muda yang dibutuhkan negeri ini, untuk indonesia masa depan, 10-15 tahun lagi.
Pak anies, benar-benar telah mengingatkan dan membangunkan kembali kesadaraan (kepedulian) saya  untuk negeri ini.
...

Diakhir acara...
Semua sedang menggerombol, mengelilingi pak anies. Anak-anak muda ini sedang meminta 
tandatangannya dan  atau hanya sekedar minta foto bersama idola anak muda negeri ini. Mereka saat ini, begitu dekat dengan pak anies. Tak ada j-a-r-a-k.


Saya, belum berada didekatnya. Masih ber j-a-r-a-k.

Saya mencoba mendekati gerombolan itu.

Saya masih tersenyum. Melihat pak anies ngobrol dekat dengan mereka, sambil sesekali tersenyum khas sekali.

Laki-laki jawa ini begitu berkharisma.

Saya juga cukup tergila-gila karena karisma itu. ah pak anies...

Saya merasakan kebahagian mereka.

Kali ini giliran saya memberanikan diri untuk meminta tandatangannya.
Saya sodorkan buku”Indonesia Mengajar” ke tangan beliau. Dan ia mengambilnya, dan memulai membubuhkan tandatangan yang bertuliskan “anies baswedan” ke buku saya. 

tapi saya menikmati foto ini;

seneng banget bisa dapet ttdnya pak anies...segitunya yah;-D


Senang sekali, saya telah berhasil meminta tandatangannya. Saat ia menyodorkan kembali buku saya, langsung tanpa menunggu lagi saya menyodorkan tangan saya dekat dengan tangannya,isyarat untuk berjabat tangan. 

Dan..berhasil. 

Sungguh. Saya senaaaaaang....;-)

Saya menjabat tangannya. Dan ia juga menjabat tangan saya. Tangan kami saling berjabatan, erat.

Ah...speechless. 

(sayang sekali tak ada yang mengabadikan moment itu...;( haaha segitunya ya!!?hihi) sehingga saya harus menyimpan kenangan momen itu dalam ingatan saya. tapi untuk membantu ingatan saya agar tak hilang, tulisan dalam blog ini adalah salah satu cara saya untuk berbagi menyimpan memori itu. 

tapi foto ini sudah cukup membahagiakan saya,hihi...

dari pada gak dapet sama sekali foto sejajar dengan pak anies, foto sama balihonya gak papa lah..;)


 Bagi saya, ini adalah kebahagian luar biasa bisa bertatap, mendengar, membacanya dan terinspirasi oleh kehadirian beliau di sini, dan hari ini.

Terima kasih tuhan telah mengabulkan mimpi kecil saya;-) ting*;0)). 







foto by niken.











Friday, April 20, 2012

MEMBUKA GERBANG KEPEDULIAN UNTUK SAHABAT KECIL

  

Mendidik tak hanya menjadi tugas seorang guru atau yang punya jabatan sekelas oemar bakrie. Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik. Maka, jika ada anak-anak di negeri ini tak terdidik. Telak, ini adalah kesalahan orang terdidik negeri ini. Dan jika masih ada anak-anak tak terdidik di “negeri” (baca: kampung) saya, maka ini adalah “dosa” saya.
Inspirasi, anies baswedan.



Pikiran ini tak henti-hentinya menggambarkan kondisi kampung masa kecil saya, lingkungan,  anak-anak kecil, dan remaja di sekitar rumah saya. Entahlah, ada kegelisahan dikampung kecil saya. Pikiran saya sangat ramai, ribut tak karuan. Tapi saya tak sedang kacau. Yang benar, saya (baca:pikiran) sedang meracau. 

Dari kegelisahan itu, saya perna punya “cita-cita” untuk membangun sebuah wadah anak-anak remaja kampung saya, untuk berkumpul dan berkarya. Sebuah wadah atau tempat mengasah kreativitas kaum muda kampung ini. Semua untuk menghidupkan kampung saya yang “lesu”. Kaum muda yang terpinggirkan. Kaum muda yang tak tahu kemana arah kaki akan melangkah. 

 Tapi bagaimana? Mungkinkah itu terwujud. Saya gelisah. Benar-benar tak tahu bagaimana merealisasikan “mimpi” itu. 

Mungkin saya naif.

Tapi saya meyakini.

Apa arti racauan dikepala saya ini!!!

Hah!

Sepertinya harus ada yang saya lakukan untuk “negeri kecil” saya. Negeri kecil atau kampung saya butuh figur yang menginspirasi. Terutama untuk anak-anak. Mungkin saya tak pantas untuk jadi inspirasi mereka. Tapi, jika saya harus menunggu orang lain datang untuk menginspirasi atau menjadi inspirator, KAPAN? Saya  sudah tak “betah” lagi! 

Saya harus mulai saat ini. Mulai dari diri saya. Saya ingin “bangun” kampung ini, melalui berbagi sesuatu dengan anak-anak. Kenapa saya mulai dengan anak-anak. Karena anak-anak mudah untuk diajak. Paling tidak ketika anak-anak sudah bisa saya rangkul, para orang tua akan mudah mengikuti. Setidaknya, mereka melihat perkembangan anak-anaknya. Dan mereka akan belajar dengan sendirinya.

Saya tahu, saya muluk-muluk. 

Saya sadar, saya terlalu beyond imagination. Tapi...

Ah, entahlah... biarkan suara sumbang itu berkicau kacau. Saya akan tetap berbuat...

Apapun. Sekarang.

Saat ini, yang saya punya hanya ilmu dan buku. Meski dua-duanya masih sangat-sangat sederhana. Dan perlu terus diasah dan di tambah...

Saya tahu diri.

Yang jelas saya akan terus berdiri dan terus berjalan agar suara sumbang itu gugur satu demi satu...

Saya mulai dengan buku.

Dengan buku—berbagi ilmu, berbagi cerita, berbagi semangat, berbagi cinta dan berbagi mimpi. Saya percaya dengan kata-kata Lennon, a dream you dream alone is only a dream, but a dream you dream together is reality. Dan saya sedang mencoba mempercainya dan akan terus mempercayainya bahwa keyakinan ini benar adanya. 

Jika anak-anak “Indonesia Mengajar” datang kepelosok negeri untuk menginspirasi anak-anak di kampung orang, saya akan berusaha terus memberi semangat pada diri dan terus semangat menyemangati orang lain: “menginspirasi” anak-anak dikampung kecil saya. Karena saat ini, mereka “butuh” saya.

Saya pernah berkata, bahwa saya tak ingin menjadi guru. Guru yang berada dalam kelas, dengan waktu dan tempat yang teratur dan diatur. Saya tak ingin. 

Saya hanya ingin, berbagi ilmu, inspirasi, dan semangat dengan anak-anak, atau siapapun, dan dimanapun. Kelas sangat membatasi keinginan saya itu. 

Maka, inilah yang saya lakukan.

Saya rangkul sepupu-sepupu saya dan kawan-kawan seusianya untuk belajar bersama. Pada awalnya, saya membantu mereka menyelesaikan tugas sekolah dan memberikan kelas tambahan, belajar bahasa inggris. Inilah awal mulanya.

Ide untuk membuka rumah baca, berangsur mulai terealisasi meski ala kadarnya. Semua masih serba sederhana. Rumah baca masih berjalan melambat. Namun, geliat anak-anak seperti cacing kepanasan. Bergerak kesana-kemari. Semangat tak terbendung. Saya benar-benar mengejar semangat itu, agar seimbang.

Koleksi yang saya miliki saat ini kurang lebih sebanyak 150-an buku yang terdiri dari novel, buku agama, pengetahuan umum yang berasal dari dana pribadi. Semua koleksi hanya untuk usia remaja dan dewasa. Keterbatasan pembiayaan dalam pengadaan buku yang saya hadapi, membuat saya tak mampu meningkatkan jenis-jenis buku bacaan yang inspiratif untuk anak-anak.

Tapi saya akan terus mengusahakannya, meski hanya satu demi satu buku anak-anak yang saya beli tiap bulannya.

Dan...

Sejak akhir Desember 2011, saya mulai benar-benar “mengkonsep” belajar mereka. Lima bulan terakhir ini, saya membaca mereka. Kelompok belajar dan bermain di rumah baca tanpa nama, saya sematkan di dada-dada mereka. Sejak itu pula, mereka menyandang nama “SAHABAT KECIL”. 

Kenapa namanya Sahabat Kecil?

Saya ingin, sebelum mereka mengenal kata musuh, sahabat adalah kata pertama yang akan mereka ingat dan menjadi pegangan hidup mereka. Mereka akan lebih mencintai kata sahabat, teman atau kawan dari pada musuh atau lawan. Meski saya tak menampik, bahwa musuh dan lawan adalah kawan karib seorang sahabat atau teman.  Paling tidak mereka akan berpikir dua kali untuk bermusuhan. 

Teladan kecil, sungguh dibutuhkan untuk anak-anak seusia mereka. 

Selama lima bulan terakhir, anak-anak yang aktif masih sekitar 10 orang. Padahal banyak anak-anak kecil dikampung saya yang perlu dibina, diberdayakan spirit hidupnya. Namun, karena alasan “malu” mereka tak mau diajak belajar bersama. Tipikal anak-anak sebuah kampung dan kondisi masyarakat (baca: orang tua) yang masih awan tentang hal ini. Perlu pendekatan yang lebih. Sosialisasi rumah baca dan belajar ini saya lakukan secara sederhana, dari mulut ke mulut. Atau lebih jelasnya, saya lakukan dengan mengajak kesepuluh anak-anak “pioner” ini berjalan-jalan sambil belajar di hutan atau bukit sekitar rumah. Saya tetap optimis, bersama anak-anak kesepuluh ini bisa memberikan nuansa baru kepada masyarakat dalam berpikir tentang pendidikan (baca:ilmu).
Dalam bahasa sederhana, saya merumuskan beberapa tujuan rumah baca  (belajar dan bermain) sebagai berikut: 

Mempermudah anak – anak dan remaja mendapatkan buku referensi sekolah.
Mendekatkan anak-anak dan remaja dengan buku.
Memberikan anak –anak dan remaja kegiatan bermutu lewat membaca.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas buku Rumah Baca sehingga bisa bermanfaat bagi seluruh masyarakat dan kampung ini.
Menularkan semangat hidup melalui buku-buku inspiratif.

Untuk meramaikan Rumah baca tersebut, ada beberapa kegiatan yang dapat menstimulus anak-anak untuk datang dan belajar. Beberapa kegiatan tersebut adalah: 

  Membantu anak-anak SD mengerjakan PR
  Fun with English
  Membaca Bersama (Reading Group)
  Belajar Menulis (Pengenalan Creative Writing)
  Bercerita
  Game/Permainan tradisional
  Painting/Drawing
  Kliping
  Outbond (Bocah Petualang)
  Bersepeda Bersama (Beautiful Bikers Community)
 Nobar (Nonton Bareng) film-film inspiratif
 Computer Course (Menyusul setelah ada dana)

Inilah sekelumit tentang mereka, sahabat kecil saya, dan rumah baca tanpa nama. Semua terkisah apa adanya karena memang begitu adanya. Semoga saya masih terus bersemangat diri dan semangat untuk menularkan ilmu-ilmu tuhan yang berserakan di muka bumi.

Thursday, April 19, 2012

Perkenalkan...


·    Sahabat. Sahabat kecil saya...
·    Here they are...


Voka erdiasyah...bocah kecil kelas 4 ini sekarang berumur 9 tahun. Oka panggilannya. Kebetulan dia sepupu saya dari adik ibu saya, paman. Dia motivasi terbesar saya. Dia lah yang mengawali kegelisahan pikir saya tentang ‘anak-anak’ di kampung ini. Someday I will write his story...wait ya?! 

Miftahul Amien...bocah laki-laki kecil kelas 3 ini sekarang berumur 9 tahun. Tingginya sekitar 120 an tapi ia berbadan gempal. Sehat. Beberapa hari ini yang saya amati dari bocah ini, sering membawa HP berradio dan ber’tv’...tak pernah lepas semenitpun dari tangan-tangan kecilnya.  Ketika kawan-kawan yang lain asyik bermain atau ngobrol, ia malah terlihat asyik mencari (memencet-mencet)signal radio atau tv pada hp buatan cina yang ayahnya baru belikan.

Rizky....bocah kecil kelas 4 ini sekelas dengan voka. Rumahnya tepat dibelakang markas Sahabat kecil. Mempunyai tinggi mirip miftahul, tapi punya badan tak se gempal mift. Ia kurus. Yang saya tahu, ia pandai menari. Waktu itu pernah unjuk kebolehan di depan mata saya, he can dance, breakdance. Yeaaaahh...
Sepertinya anak-anak suka dance. Mereka belajar otodidak. Some day i will copy the breakdance video for them.

Next,

Merryn....gadis kecil kelas lima ini punya nama panjang. Panjang sekali. Hingga saya tak mampu menghafalnya. Yang saya tahu dia dipanggil merryn. Someday saya coba menghafal namanya. Ia pandai. Punya tinggi sekitar 130 cm. Sepenglihatan saya, ia sedikit tomboy. Entahlah...saya coba observe lagi. Sepertinya ia punya bakat melukis. Ayahnya yang seorang pelukis, kemungkinan adalah sumber inspirasinya.

Tyas....si gadis kecil, paling kecil di antara sahabat kecil yang lain. Ia masih duduk dibangku kelas satu. Menulis dan membaca saja ia masih tertatih. Si kecil ini ikut-ikutan belajar si kakak, yang tak lain tak bukan si Merryn. Tyas, menarik buat saya. kepolosan mimik dan ucapnya adalah yang paling saya gilai dari seorang bocah bernama panjang ini. Haha..iya, bocah ini juga punya nama panjang sama seperti kakaknya. Saya juga tak mampu menghapalnya. Ada yang menjadi ciri khas dari anak ini..sedikit-sedikit ia mengeluarkan jurus andalannya, andalan anak kecil, merengek trus nangis. Ia penakut. Maklum masih kecil. Hati-hati jangan mengganggunya..ia akan mengeluarkan jurus andalannya itu, hingga membuat yang lain memberikan waktu untuknya dan bertanya..kenapa? dan si tyas hanya menjawab dengan...huwwwwwaaaaaa.....aaaaa.....aaaaa....
hahaa...tyas..tyas....;-D

Ulfatun Nabila....gadis Sd ini yang paling besar diantara sahabat kecil yang lain. Ia kelas enam. Tingginya sekitar 140. Kebetulan dia juga sepupu saya. anak dari pak de saya. ia juga tomboy. Ah...entahlah..kenapa banyak yang tomboy di kelas saya!hahaa... setahu saya, si uul ini yang paling ditakuti anak-anak yang lain. Semua seperti tunduk, patuh pada gadis ini. Entahlah..kemungkinan ia yang paling besar. semua aturan yang ia buat, harus dipatuhi..kalo tidak..tunggu sanksinya... anak ini juga moodi...one day, saya pernah kena moodynya itu... hah! Saya harus banyak belajar, observasi dan developing di berbagai lini mengenai anak-anak, belajar, hobby, psykologi etc

Kisma....saya tak tahu nama panjang anak ini. Gadis kelas tiga ini, se kelas dengan miftahul. Saya suka rambut ikalnya. Manis dan imut. Seringkali dijadikan bahan gojlokan kawan-kawan yang lain. Tipikal anak-anak. Terkadang marah, tersirah diwajahnya yang imut. Tapi ia setia. Ah anak-anak..selalu menemukan caranya sendiri dalam menyelesaikan masalah pribadinya....
Then,

Wulan... ia paling bongsor dari sahabat yang lain. Tinggi nya sekitar 146 cm. Hampir mengejar saya. anak kelas empat ini pandai. Ia mudah mengikuti pelajaran apapun. Kadang ia terlihat begitu dewasa dari pakaiannya. But..sometime not.... anak-anak selalu seperti bunglon. Tapi ia tetap anak-anak...

Della...ia si gadis kecil. Meski kelas tiga. Ia ber ukuran lebih kecil dari kisma dan miftahul. Kemungkinan 112 cm tingginya. Ia gadis rajin. Sepertinya ia tak suka membaca cerita. Apalagi mendengarkan saya membacakan cerita. Saya pernah melihatnya terkantuk-kantuk mendengar saya membaca laskar pelangi, padahal kawan-kawan yang lain membelalakkan matanya, tanda antusias. Ah della..kamu mengingatkan saya pada murid saya waktu SMA..., soim...;)

And the newest from this group...

Prio...begitu ia memperkenalkan diri pada saya. kelas empat. Sekelas dengan oka dan rizki. Saya tak bisa menceritakan lebih banyak hal tentang anak ini. Masih dalam tahap observasi selanjutnya...


The last words, I want to say...I love you kids...nice to read you like this. Saya akan terus membaca kalian....