kereta tiba pukul brapa, kata iwan fals.
tapi bukan kereta tiba, yang saya tanya.
kreta berangkat pukul berapa, saya sedang menunggu.
hujan mengiringi sejak tadi;
Romantis sekali;) kata teman dalam smsnya.
masih hujan.
sirine kreta bunyi.
kretapun membawa saya berangkat.
dan masih romantis.
teringat kawan, dia bilang ketika dalam kereta selalu menghadirkan harapan2 besar,
namun ketika mata melihat keluar melalui jendela kereta selalu menghadirkan hal-hal yang tua, majenun, dan ketololan. begitulah si zaki.
masih dikreta. jauh dari pusat stasiun jember.
hujan sudah tak kelihatan disini.
meski mendung menggelayut minta hujan segera turun.
maka benarlah kata zaki, jika di luar kreta begitu nampak kemajenunan dan tua.
pagi yang menghadirkan harapan2
dan siang yang terkadang hadir dengan kekalahan hati,
hinggga membuat malam, pantas untuk meyerahkan semua yang telah bersikap tak adil.
malam sudah jelas-jelas menampakkan diri,
membawa seribu kebisuan dengan segala kesunyian,
ditenganh teriakanteriakan keras dalam hati para penghuninya.
itu, malam ini.
Tuesday, October 25, 2011
kereta ekonomi, saya dan hujan
Monday, October 17, 2011
Pada ia yang Kau titipkan pada waktu (dua)
Aku hanya perempuan biasa, yang berharap waktu dan tuhan tak kan ingkar janji. Aku tahu tuhan mempercayai waktu. Aku tahu tuhan tak main-main atas sumpahnya pada waktu. Ia akan datang sesuai janji-Nya. Aku percaya waktu, tuhan dan juga ia.
Kelak ia, aku dan waktu bertemu atau dipertemukan. Terserah tuhan sajalah, enaknya bagaimana.
Atur saja.
Untuk sementara, meyakini “kebenaran” itu hari ini, cukup menguatkan buatku.
Untuk ia yang dititipkanNya, pada waktu.
Tertanda, aku.
26.08.11/15:00
Dan Berkawan Kegelisahan
Dua hari ini aku sedang membaca bukunya John Perkins yang berjudul Membongkar kejahatan jaringan internasional, kelanjutan buku pertamanya yang laris manis, tapi belum sempat aku baca. John adalah penulis best seller The Confession Economic Hit Man, pengakuan seorang bandit ekonomi dunia. Negeriku dijadikan korban pertamanya dalam aksi biadabnya. Pemimpin negeriku ia jadikan konglomerat, Bangsaku ia jadikan melarat.
Belum selesai terbaca semua memang, tapi tiba-tiba aku menyesal membaca bukunya. Aku menyesal mengetahui ini semua, meski belum semua kejahatan john yang aku ketahui. Menyesal kenapa aku baru tahu. Dan baru sadar ternyata, negeri kecintaan ini telah begitu kejam direkayasa oleh seorang atau kelompok asing tak punya hati. Ditambah lagi penyesalanku, bahwa mereka yang asing itu di dukung oleh orang-orang yang berkuasa di negeri ini. Untuk memperkaya diri. Hah!
Ekonomi negeri ini dibuat kacau balau oleh korporat-korporat yang kehilangan nurani. Negeri ini dibuat menanggung hutang luar negri yang melangit. Hutang yang entah sampai kapan akan terlunasi.
Secara imaginer, aku berkata pada John. John, kenapa kau begitu jujur mengungkap ini semua! Kau terlalu jujur john, hingga membuat aku ingin muntah!!
Namun, detik itu juga aku juga berterimakasih pada John Perkins atas kejujurannya ini. Terimakasih telah memelekkan mata dan membersihkan kotoran telingaku yang tersumbat oleh rasa ketidakingintahuan! mata dan telinga yang selama ini butatuli terhadap semesta negeriku!
John Perkins menyesali perbuatannya menjadi bandit ekonomi, kaki tangan Amerika serikat. John Perkins sedang bertaubat. Dua buku best seller itu buktinya.
Aku harus tega mendengar dan membaca cerita john ini, dan berniat akan menyelesaikan hingga halaman terakhir. Semoga saja aku kuat. Dan tak bertambah gelisah.
Pause.
Aku seorang anak laki-laki berkacamata, berseragam abu-abu yang sedang siap-siap berangkat menimbah ilmu. Aku sedang memasang kaos kaki putihku, sewaktu kakak perempuanku menggorengkan nasi sisa semalam untuk sarapan pagi ini. Bapak sedang menonton berita melalui siaran telivisi. Televisi swasta nasional yang kerjanya tak ada yang lain selain mencekoki informasi. Korupsi, koruptor, fitnah, mafia, penegak hukum yang tak berpihak pada kaum papa. Negeri ini sudah ibarat negeri amplopnya gus mus. Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur/Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur,hal-hal yang teratur menjadi tak teratur/Memutuskan putusan yang tak putus,membatalkan putusan yang sudah putus/Amplop-amplop menguasai penguasa, dan mengendalikan orang biasa/Amplo-amplop membeberkan dan menyembunyikan/Mencairkan dan membekukan/Mengganjal dan melicinkan/Orang bicara bisa bisu/Orang mendengar bisa tuli/Orang saleh bisa nafsu/Orang sakti bisa mati/Dinegeri amplop, amplop-amplop bisa meng-amplopi siapa-apa saja/
Nonton berita, adalah kebiasaan bapak. Setelah sholat subuh, jam 5 ia sudah mulai aktivitasnya tersebut. Aku takut, bapak terpengaruhi wacana-wacana media yang mengambang. Dan terkadang tak bertanggung jawab.
Pagi ini ada tambahan pelajaran, hal biasa buat anak kelas 3 sepertiku. Aku harus berangkat lebih pagi dari biasanya. segera saja aku sarapan nasi goreng buatan kakak perempuanku. Lima menit setelah makan, beranjak dari kursi makan menuju bapak yang sedang asyik duduk berselonjor di depan televisi tak ber-remot itu. aku hendak pamit. sedikit resah tiba-tiba, takut kalau si bapak akan menggelontorkan nasehat kacau yang menjadi kebiasaannya.
Tak luput. Si bapak mulai lagi, meracau.....
Nak, dengarlah bicara bapakmu
yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dulu buku itu
Duduk dekat bapak, sabar mendengar
Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang
Segala sesuatu ada harga karena uang
Aku duduk terdiam disebelah kursinya, sambil menundukkan kepala dan buku si bandit kutaruh dipangkuan. Dan bapak menambah racauannya.
Kau anak dambaanku, yang besar di kancah perang
Kau harus kuat, Yakin pasti menang
Sekolah lah, biasa saja, jangan pintar-pintar,percuma!
Latihlah bibirmu, agar pandai berkicau, sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu
Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Peduli titel dikandang atau titel mukzijat
Sekolah buatmu hanya untuk gengsi
agar mudah bergaul tentu harus banyak relasi
Jadi penjilat yang paling tepat
Karir mu cepat uangkan ku dapat
Tiba-tiba, bapak diam-tatapan kosong sambil menghentak-hentakkan kaki kanannya bersentuhan dengan lantai, naik-turun, cepat-cepat kemudian melambat.
Ah, bapak sudah semakin stres, kataku dalam hati! Ini akibat jamu pahit yang dicekokkan pada telinga dan matanya oleh mulut-mulut manis si pembaca berita itu. Semakin bertambah kencang saja debar jantungku. Tuhan, tolong aku!
Racauannya bertambah gila, seperti berteriak. Meledak hendak memakanku. Aku ketakutan.
Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sadis, apalagi yang ber-karat
Jadilah kancil yang sadar akan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan
Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab bahan karet paham kondisi
Aku meliriknya diam-diam. Bapak tak menolehku sedikitpun. Matanya tertuju pada televisi. Berita isinya sampah semua! Katanya sambil menoleh sedikit ke wajahku. Aku menunduk.
Kami berdua terdiam.
Dan...
Ia mulai lagi, kali ini sedikit berbisik....
Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak utang
Bertambah pelan suaranya,
Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya akan dikemih
Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu-batu bikin jalan mu terhambat
Bapak mengakhiri racauannya, sambil menyodorkan tangan kanannya ke mukaku, isyarat untuk menciumnya. Dan akupun berdiri serta berucap salam. Kumulai langkahku menuju ke sekolah. 30 menit kemudian, sampailah di depan gerbang sekolah. Memasuki gerbang sekolah, dan tiba-tiba pagi sesejuk ini terasa begitu berat kepalaku dan sedikit berkunang-kunang. Kelas sudah dimulai, segera masuk saja tanpa permisi. Duduk di bangku, dengan sedikit melamun. Pikiranku kemana-mana sampai jam pelajaran tambahan usai. Lamunanku tak terbuyarkan hingga sekolah usai pukul 13.30 siang. Entahlah, aku bingung.
Aku pulang dengan buku si bandit John Perkins didekapan tangan kanan. Langkah kaki menuju gerbang sekolah. Mataku masih kosong.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Kegaduhan diluar gerbang sekolah. Mataku terbelalak seketika. Seperti terjadi keroyokan. Teman-temanku tawuran dengan sekolah sebelah. Aku lari menuju tempat kejadian. Otakku kembali normal. Lamunanku tak ada.
Raut mukaku mengganas. Merah marah!
Ribut.
Ramai.
Ejek-mengejek. Mereka lempar batu.
Aku ikut tawuran.
Kupukulkan buku si bandit setebal 4 cm itu ke kepala salah satu anak sekolah sebelah yang sedang memukuli temanku.
Dan, tibatiba...
Lemparan batu mereka terkena pelipisku. Kacamataku pecah. Aku pingsan. Kepalaku melayang-layang. Wajah bapakku terlintas jelas dikepala.
Bapaaaaak....
Bisikku menggigil.
Negeri amplo puisi oleh Mustofa Bisri, masih penyair kecintaanku.
Dan lirik berjudul Nak, nyanyian fals iwan.
Untuk siapa saja, dari aku.
24.09.11
Wednesday, October 12, 2011
Pada ia yang Kau titipkan pada waktu
Aku percaya padaMu// Pada ia yang Kau titipkan pada waktu// Akupun meyakininya// Kau takkan pernah ingkar pada janji imajiner kita// Aku percaya padaMu// Pada hidup yang Kau gariskan ditanganku// Dan pada hidup yang kau guratkan pada bahunya// Ia tak kan lari dari perjodohan ini// Aku percaya padaMu// Pertemuan yang kau siapkan sejak perpisahan pertama kami// Dan pertemuan kami berikutnya yang masih kau rahasiakan// Adalah harapan nyata hidup kami, bukan utopia yang sekadarnya// Aku percaya padaMu// Sejak ruhmu kau hidupkan pada kami// Sejak itu... Hidupku berlanjut misteri // dan terus akan mempercayai // Bahwa ia benar-benar Kau titipkan pada waktu// salam duniaku, 26.08.11
tak sesederhana itu
pagi tak pernah ingkar// siang merayap datang menepati janjinya// pada senja yang susul menyusul merambati malam// terkadang aku mengerti, kadang tidak// kenapa tuhan sering kali bersumpah demi namamu, masa. sesingkat inikah engkau.....salam duniaku,
Thursday, August 18, 2011
Si Tua, Si Tuli Dan Sepeda Kumbang
Gadis kecil berseragam merah putih sedang menggigit-gigit jari manisnya. Terlihat seperti kebingungan. Cemas, lebih tepatnya. Matanya bergerak-gerak cepat kekanan-kikiri. Kepalanya yang kecil mengikuti gerak tubuhnya yang lincah mencari sesosok tua dan beruban. Sudah lima belas menit waktu berlalu dari pukul 12.15, si tua belum kelihatan juga. Gadis kecil terlambat. Jantungnya berdetak hebat. Takut terlambat sekolah.
Jam satu siang masih 30 menit lagi.
Namun, sekolah begitu jauh untuk ditempuh 30 menit dengan sepeda butut. Gadis kecil tambah resah. Dalam hati ia berkata, kek..!cepatlah datang, aku butuh bantuanmu!!!
Dari kejauhan, bayangan laki-laki kurus dengan sepeda tua yang telah menemani kaki-kaki tuanya menempuh sebuah perjalanan, muncul tiba-tiba.
Gadis kelas tiga itu, akhirnya melengkungkan bibir tipisnya. Si tua dan sepeda kumbang tuanya mendengar harapannya.
Cepat kek, aku terlambat! Kata si gadis berbisik.
Sunyi.
Ia, si tua beruban itu, hanya diam saja.
Si gadis berseragam merahputih itu kemudian menaiki boncengan sepeda kumbangnya dan duduk sambil tangan kecilnya memegangi lapak yang hampir lepas kulit penutupnya. Sangat erat.
Sepeda kumbang melaju perlahan.
Jalan setapak pinggir kali menjadi pilihan sepedanya mengantar gadis kecil yang ia sebut, cucu.
Gemericik air kali, memecah kesunyian diantara perjalanan dua insan tua dan sangat muda ini. Dinginnya air kali, mengurangi rasa panas dari terik matahari di kepala kami. Meski, panas masih sangat terasa di bun-ubun. Tak luput membuat rambut si gadis bertambah merah. Nampak sekali si gadis kampung, kurang vitamin. Panas sudah menjadi kawan karibnya.
Kami masih terdiam.
Gadis kecil masih duduk tenang dan masih berharap semoga ia tak terlambat. Si tua pun masih mengayuh sepedanya. Pelan.
Tenang tanpa kata.
Mata si gadis berbinar-binar, dari kejauhan rel-rel kereta nampak dipeluk mata. Pertanda gedung sekolah hampir di depan mata.
Akhirnya, si tua pun memberhentikan sepedanya dan turun. Menoleh kebelakang, sambil tangan kirinya tetap memegang stir sepedanya, si tua melihatnya turun dari boncengannya. Si gadis kecil mengambil tangan kanan si tua, lalu diciumnya.
Aku sekolah dulu ya kek! Assalamualaikum...., katanya pamit.
Wa’alaikumussalam, jawabnya.
Mata si tua masih mengikuti langkah kaki-kaki si gadis menyusuri rel-rel kereta yang harus dilalui untuk menuju gedung sekolah yang sebenarnya. Enam hingga tujuh jalur kereta api yang harus ia tempuh. Loncat sana-loncat sini. Berburu waktu. Sekolahnya berada di balik rel-rel mati itu.
Si gadis berseragam merahputih ahirnya berhasil melewati 7 jalur rel mati itu. Ia, si tua beruban itu masih disana—ditempat dimana si gadis kecil mencium tangan keriputnya. Gadis kecil melanjutkan perjalanannya yang tinggal beberapa meter lagi. Sepertinya mata si tua sudah tak melihat bayangan si gadis. Tiba-tiba terpikir oleh si gadis kecil, mempercepat langkah kaki mencari semak. Dan sekilas petir, ia melesat, bersembunyi.
Gadis kecil ingin melihatnya, pulang.
Si tua memutar sepeda kumbangnya. Dan punggung itu, yang telah melengkung 25 derajat pun menjauh bersama bayangan hitamnya.
Gadis kecil terdiam.
Dan terdengarlah suara bel sekolah, tepat bersamaan dengan kaki kirinya melewati gerbang sekolah.
intermission.
Suatu hari yang lain, masih dengan seragam merahputihnya. Gadis kecil itu lagi-lagi sedang cemas. Seperti biasa, masalah telat ke sekolah. Siang itu si gadis berseragam merahputih itu, menunggu seseorang yang akan mengantarnya ke sekolah. Kali ini, bukan situa yang ia tunggu. Si yang lain, yang ia tunggu. Si itu adalah pak de kesayangannya, yang tak kunjung datang. Ia memanggilnya, wak. Kurang 20 menit lagi jam masuk sekolah.
wak pun datang tiba-tiba.
Aih, kemana saja wak ini!! Sambil menunjuk jam tangan yang sebenarnya tak ada, dengan berkomat kamit kata “telat, ayo cepet” tanpa bersuara! Gadis kecil menggerutu.
Seperti si tua, iapun tak menjawab apa-apa.
Langsung saja, si gadis naik dan berbonceng di sepeda kumbang milik si tua. Ia mengayuh kecang sepedanya. Seperti biasa, kami melewati jalan setapak pinggir kali.
Asyiiiik!kata si gadis memecah sunyi.
Lumayan meski panas, tapi karena wak mengayuh sepedanya agak kencang membuat semilir angin segar merambati seragam putihnya melewati ketiak kanan-kirinya. Si gadis senang bukan kepalang.
Kali telah mereka lewati. Tak ada lagi suara gemericik yang menyejukkan itu. Kini yang terdengar hanya suara gesekan sayap ban belakang sepeda kumbangyang nyaris saling menempel. Tepat dibawah boncengan yang diduduki si gadis.
Srek..srek..sreeekk...
Srek..srek..
Srek..
Si gadis mencari bunyi itu berasal. Tengok kanan-kiri sebelah kaki-kakinya.
Srekk..
Srek..sreek.srekkk...srekk...
Roda masih terus berputar. Meski semakin berat kayuhnya. Si gadis berseragam merahputih merasakannya. waknya dengan sekuat tenaga, mempercepat kayuhnya. Dan...
Srekk..srek...srekkk,
Masih sering kali terdengar mengiringi kesunyian perjalanan mereka melewati perkebunan warisan milik salah satu warga dekat rumah mereka.
Tiba-tiba sampailah di perbatasan rel-rel mati.
Si gadis kecil pun turun.
Dan seperti biasa, ia ambil tangan kanan waknya, diciumnya seperti mencium tangan situa—kakeknya. Sambil berkata “ aku berangkat dulu ya! ” tanpa suara dengan mulut seperti orang kehabisan suara karena menyanyi atau banyak teriak atau bahkan seperti seorang tuna wicara.
Ia hanya menganggukkan kepalanya, mengijinkan gadis kecil pergi ke sekolah.
Matanya mengikuti langkah si gadis kecil di rel mati. Kosong.
Namun sebelum selesai melewati jalur rel mati itu, gadis kecil melihatnya sedang memutar sepedanya.
Dan pulang.
Ia waknya, si tuli—pak de kesayangannya. Anak pertama si tua.
Memunggungi si gadis.
Matanya berkaca.
Dan ia, si gadis berseragam merah-putih ini masih belum bisa membacanya. Lagi-lagi hanya bisa terdiam.
Ziarah ingatan. Begitu fahd djibran, penulis muda favoritku, mengistilahkannya. Akupun menyukai istilah ini. Kata ziarah biasanya kita gunakan untuk hal yang berkaitan dengan orang yang meninggal, kuburan dan sebagainya. Berziarah adalah mengunjungi kembali, mengenang, mendoakan mereka yang sudah tiada. Ziarah ingatan berarti mengenang kembali, bersilaturahmi lagi dengan kenangan yang tertinggal. Kata fahd, ziarah bukan saja mengenang bagi mereka yang sudah tiada. Kadang-kadang yang paling sering kita lupakan justru kenangan-kenangan indah bersama mereka yang masih hidup. Katanya lagi, kita bisa membuang ingatan, tapi kita tak bisa menolak kenangan. Sebab tak semua yang kita ingat akan kita kenang, tetapi semua yang kita kenang tersimpan baik dalam ingatan.
Si gadis berseragam merahputih kelas tiga itu, yang berambut merah karena sengatan matahari, yang selalu cemas akan keterlambatannya ke sekolah, yang selalu menunggu dua orang tua itu adalah aku, si empunya cerita original ini.
Kisah yang kuceritakan ini adalah bentuk ziarah ingatanku kepada dua laki-laki itu—lelaki yang juga aku cintai, selain ayah. Kalian berdua adalah darah daging ibuku. Bersama ibuku, kalian adalah ladang amal bagiku. Kenangan bersama kalian dan sepeda kumbang itu, takkan ku eliminasi dari sudut pikirku. Apapun yang terjadi selama bermetamorfosanya gadis berseragam merahputih itu hingga kini, baik-buruknya kalian berdua, tak jadi soal. Kalian tetap kuanggap laki-laki baik yang kukenal sejak kecil. Laki-laki baik . Tak lebih dan tak kurang. Kalian, Laki-laki yang juga masuk nominasi akan ku cintai sampai akhir hayat. ;-)
Sepeda kumbang yang baik hati. Terima kasih telah menyelamatkan ku dari terlambat kesekolah. Terimakasih juga telah menemani dua laki-laki itu mencari sesuatu untuk mengisi perut-perut mereka. Sesuatu untuk keluarganya dan sesuatu untuk yang mereka pelihara lainnya, kambing-kambing dan sapi milik orang. Terimakasih telah membuat mereka hidup sederhana, sesederhana dirimu. Tapi yang jelas, kau tak membuat hidup mereka sesederhana itu dimataku. Kau dan kedua laki-laki itu begitu kaya di hatiku.
Begitulah...
Dedikasikan untuk wak idris dan anang saleh, dua insan anak-beranak.
Kisahmu belum tuntas kuceritakan. Ini hanya sekelumit ziarah ingatanku malam ini.
cheers;-)
Wednesday, August 17, 2011
Rp.1000 Untuk Nasionalisme
Saya tak pandai berbicara tentang Nasionalisme sebetulnya. Judul itu hanya profokasi, kawan. Ups?!nggak juga sebenarnya. Jika kau tanya apa definisi tentang nasionalisme. Pasti saya hanya senyum-senyum saja. Iya, hanya senyum. Tengok kanan tengok kiri. Mencari jawaban? Ah, tentu tidak! Pertanyaan itu pasti saya biarkan liar terbang ke angkasa. Terserah angin yang mau membawa pertanyaan itu. jika sampai ke planet mars, semoga saja makhluk mars menemukan jawaban yang baik dan bijak. Haha..saya, terlalu beyond imagination! Saat ini, definisi atau sejenis puluhan untaian kata yang katanya menunjukkan makna nasionalisme itu tak penting buat saya. iya saat ini!
Maka dari itu, tentu saja saya nggak akan bicara nasionalisme dan teori-teorinya di sini dan saat ini.
Saya Cuma ingin cerita, haha;P...
Lebih gak penting sepertinya!hehee...
Ok lah, boleh gak percaya sama cerita saya! tapi bacalah untuk kali ini.
Begini...,
....sebuah bis angkutan umum melaju sepoi-sepoi seperti perahu layar sore hari. Seorang sahabat sedang berada di dalamnya. Ia sedang dalam perjalanan menuju blitar, ke rumah teman karibnya. Sepanjang perjalanan hanya diam mewakilinya. Melamun, khas anak perempuan ketika sendiri. Padahal di dalam bis begitu “ramai”. Selain penjaja makanan, penjaja korek-pisau dapur, pengamen hilir mudik, bergantian menghibur.
Perempuan itu masih melamun.
Penumpang lainnya, asyik dengan keasyikkannya sendiri. Penjaja dan pengamen yang naik turun, drastis tak memperoleh perhatian sedikitpun. Ada yang terhibur. Ada yang beli karena kasihan. Ada yang males. Ada yang ngantuk. Ada yang sumpek. Dan ada yang menggerutu, pengamen maneeh!!! ...ra mari-mari mulai mau!!
Sepi merambat.
Dan tiba-tiba lamunan perempuan itu dan penumpang lainnya terbuyarkan oleh suara seorang pengamen. Pengamen yang lainnya. Kali ini sipengamen tidak sedang menghibur dengan bernyanyi, tipikal pengamen-pengamen kebanyakan.
....
Suaranya tiba-tiba menggelegar. Memecah keheningan perempuan itu...
Mana, ada negeri sesubur negeriku.
Ia memulai performancenya.
Mana, ada negeri sesubur negeriku
Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu dan jagung
Tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung
Perabot-perabot orang kaya di dunia, dan burung-burung indah piaran mereka,
berasal dari hutanku
Ikan-ikan pilihan yang mereka santap, bermula dari lautku
Emas dan perak, perhiasan mereka, digali dari tambangku
Air bersih yang mereka minum, bersumber dari keringatku
.....
Penumpang melongo. Seperti ada sesuatu yang menampar dalam dada-dada para penumpang. Perempuan yang melamun itu menggerakkan kepalanya ke kanan, mencari dimana posisi pengamen berada. Suara itu menghipnotisnya, agar memperhatikan si pengamen berorasi.
Pengamen melanjutkan. Kali ini begitu mendayu-dayu. Masuk kerelung hati perempuan itu.
Suaranya yang berat menambah aura magis orasinya.
Mana, ada negeri sekaya negeriku
Majikan-majikan bangsaku memiliki buruh-buruh mancanegara
Brangkas-brangkas bank ternama dimana-mana
Menyimpan harta-hartaku,
...
Negeriku menumbuhkan konglomerat
Dan mengikis habis kaum melarat
Rata-rata pemimpin negeriku dan handai taulannya
Ter K-A-Y-A di dunia
....
Suara pengamen itu sungguh menyayat. Merinding menyelimuti hati para penumpangnya. Ia menyadarkan hal yang paling mendasar sebagai warga negara atas kecintaan pada negeri ini. Ia menyadarkan ke”acuh”an kita pada masalah bangsa ini.
Si pengamen belum selesai, ia meneruskan dengan intonasi yang tegas.
Mana, ada negeri semakmur negeriku
Penganggur-penganggur diberi perumahan,
Gaji dan pensiun setiap bulan
Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan
Intonasi nya makin tegas dan galak.
RAMPOK-RAMPOK!
Diberi rekomendasi dengan kop sakti instansi
MALING-MALING! Diberi konsesi
Tikus dan kucing dengan asyik berkolusi!
.....
Ia mengakhiri orasinya.
Intermission.
Seperti pengamen-pengamen lain, setelah perform sipengamen mendekati satu persatu penumpang untuk “upah” menghiburnya hari itu. Ia mendapatkan berkah. Sebagian penumpang bis memberinya lebih dari standart pemberian seseorang kepada pengamen. Orasi si pengamen benar-benar menyadarkan.
Dan sahabat saya memasukkan uang Rp.1000 ke kantong plastik yang disodorkan si pengamen. Sepertinya ia tersentil orasinya. Orasi yang membangkitkan rasa nasionalismenya terhadap bangsa ini. Rasa yang telah lama terkubur debu berabad-abad. Namun hari itu, debu yang menutupi “rasa” itu seperti tersapu habis oleh angin segar dalam orasi si pengamen. Rasa itu menguat melebihi definisi apapun tentang nasionalisme. Rasa yang telah dihadirkan kembali oleh sebuah orasi seorang pengamen. Sebuah Orasi yang menyuruh kita untuk menengok kembali apa yang terjadi pada bangsa kecintaan kita ini.
Tengoklah!dan sisakan sedikit pedulimu!
Hah!
Haruskah kita membayar 1000 rupiah untuk membangkitkan jiwa nasionalisme kita? Seribu rupiah untuk cinta akan bangsa ini. Sebegitu hilangkah rasa nasionalisme itu didada-dada kita. Hingga harus membayar? Sepertinya memang iya!
Haruskah kita butuh seseorang yang menyadarkan kita, seperti “si pengamen” itu untuk sebuah rasa “nasionalisme” yang terpatri di dada-dada kita? Sepertinya memang iya!
Dan yang jelas, sebenarnya kita tak butuh definisi panjang tentang nasionalisme. Sepertinya memang iya!
Tidak lagi sepertinya?! memang iya!
Tak perlu berpanjang-panjang tentang hafalan nasionalisme.
Rasa.
Kita perlu merasakannya dan kemudian menyadarinya. Setelah itu bertindak, itu terserah kita! Dengan cara dan kemampuan kita.
Hah!
Entahlah!
Saya pun hanya bisa prihatin melihat ini. Lebih prihatin lagi pada diri saya, yang juga ternyata butuh “mereka” untuk menggugah kecintaan pada negeri ini. Hah! Ini adalah iman seorang yang lemah.
Kenapa saya tiba-tiba resah?
Resah melihat generasi saya, anak-anak muda hari ini, lebih memilih mengharumkan budaya bangsa lain di “rumah” sendiri. Saya resah kalau mereka (anak-anak muda hari ini) semakin menjadi peniru/penjiplak/duplicate, mengimitasi total budaya lain, dan menjadikannya tren di negeri sendiri.
Oh, pemuda!
Oh, pemudi!
Oh, boysband!oh, girlsband!
Lho koq?
Oh, koreanpop!oh,koreanpop!
Lho?Lho?!!!
Oh, mereka semakin menjadi-jadi dinegeri ini!
Saya lagi resah, tentang yang satu itu.
Untuk menjadi modern tak harus western kan? Modernisasi tak harus Westernisasi. Modernisasi Indonesia dengan cara Indonesia. Saya tahu, saya tak punya solusi riil tentang ini.
Hahaaa...(saya tertawa untk menutupi ketakmampuan ini:D)
Jangan percaya!
Cerita ini adalah pengalaman pribadi sahabat saya, mb.obib.
Saya terinspirasi dengan pengalaman “merinding” itu.
Orasi bercetak tebal itu adalah
Sebuah puisi milik M.Bisri, penyair kecintaan saya.
Untuk indonesiaku, kecintaanku.
17 Agustus, 2011.
Subscribe to:
Posts (Atom)

