Monday, February 22, 2010

negeriku, Ngurah Rai mu




Lagi,
Entah untuk berapa kali
Ngurah Rai aku jumpai nyata

Lagi,
Entah untuk berapa kali
Menciumi tanahmu yang ayu Rai

Lagi,
Entah untuk berapa kali
Ku mengantarmu kenegeri impian

Lagi,
Entah untuk berapa kali
Kulihat mereka berias air mata
Mengantarmu untuk kembali
Dan akan Menjemputmu pulang kerumah

Lagi,
Entah berapa kali
Aku menginginkan rasa itu memelukku
Berharap aku berdiri disini,
Ngurah Rai mengantarku terbang juga
Entahlah,

Laa!
negeriku menginginkan utuh raga jiwaku
Negeri dongengku,
Kan ku buat kau nyata.

Wednesday, February 3, 2010

untitled



Ya Robb,
Tak ada doa khusus pagi ini
Doa yang biasa aku lamatkan dalam dhuhaku
Aku hanya ingin menengadahkan kedua tangan ini
Tengadah penuh pasrah
Hanya itu,



Alhamdulillah.








cheers,
nurulhikmah.

Wednesday, January 20, 2010

dia yang JUGA ku sebut mama,


Tak henti, otak ini bernostalgia
Bak film yang memutar kembali Kenangan bersamamu
Lagi,
Ingatkah kau
Saat sekolah masuk jam 12 siang
Di kelas tiga
Terseok-seok kakiku menuju sekolah,
Sekolah Yang baru aku tahu berjarak satu-dua kilo dari rumahku

terik sang surya kubiarkan memanasi kepala mungilku
dan

Tepat di atas rel mati
Ku hentikan langkah
Dan Aku melihat bayangan kreta angin,
yang tak lain adalah bayangan seorang perempuan yang kau sebut ia mama
ku lihat perempuan itu mengayuh lebih cepat,
terlihat hampir oleng
namun tetap berusaha membiarkanmu nyaman dalam boncengannya
mungkin dia tahu kalau aku sedang berdiri mematung, saat mentari tepat di atas ubun-ubun kepalaku
Kau dan perempuan itu mendekat
Dan berkata,
Ayo bonceng mama…
Rasanya aku ingin menangis
Menangis sekuat-kuatnya
Dan sepuas-puasnya
Aku tak tau kenapa
….
….

Mama…
Aku juga merindumu,







Cheers,
Nurulhikmah.

Friday, January 15, 2010

Cinderella sore,


Kau muncul tibatiba
Kabarmu pun datang tak berisyarat
Kawan kecil,
Hati ini senang sangat
Kehadiranmu membawaku terbang
Mengingat ratusan memori indah bersama
Enambelas tahun yang lalu
Saat kakikaki mungil kita menapaki jalan panjang.
Kau ingat sore itu
Saat pulang sekolah dikelas dua
Kau dan aku berjalan riang
Diantara jejagungan hijau yang mulai tumbuh kembangnya
Kau ingat, suara kereta api disebelah kiri jejagungan itu
Merdu,
iringi langkah langkah kecil kita menuju pulang

Ingat kah kau,
kita…
Tak pernah jeda untuk saling bercerita
Aku ingat, antusiasmu berkisah tentang keingingannmu
Menjadi Cinderella,
Aku senang dibawa angin kicauanmu
Bak kicauan burung burung gereja di atas kepala kita
Memberi kabar kepada dunia
Tentang keberadaan kita
Ah, sulit aku melupakannya
Memori kecil itu menari-nari tiada henti di kepalaku
Saat in dan Detik ini, pertemuan kembali dengan mu mengembalikan ingatanku,
membawaku mengumpulkan puzzle-puzle masa kecil yang telah lama ku simpan
dan kubiarkan berserakan tak terdengar lagi,
dalam hati,
...
...
...
aku merindukan mu dan sore itu.






Cheers,
nurul hikmah.

Friday, December 25, 2009

Aku kalah, diselasela jari kakimu



Suara membuncah
Tangis seorang ibu
Iba melihat laku sang putra
Yang tak kenal lagi kata hormat
Kenapa dengan putraku, tanyanya tak paham
Apa yang membuatnya kasar padaku,

Kamu seorang anak laki-laki. Kamu yang tak kuketahui namanya sampai cerita ini kutulis. Anak sulung dari dua bersaudara dengan adik perempuanmu. Laki-laki gagah, kesan pertamaku padamu. Tentunya, perangai baik juga melekat didirimu. Namun, semua terasa kabur setelah ku saksikan lakumu terhadap orangtua dan adik kandungmu malam ini. Tak bisa kupercaya. Lagi-lagi, kisah anak durhaka menyapa mata dan batin kecilku malam ini. Sungguh, bukan maksudku untuk memberi label sepert itu. aku tak punya hak. Tapi, itulah yang kudengar, Terucap gamblang dari mulut seorang perempuan yang melahirkanmu.

Kenapa kau sakiti kami
Stroke ayahmu sudah membuatku pilu
Kini, dengan laku burukmu
Serasa pisau menusukku bertubi-tubi
Pilu ku bertambah

Kelakuan kamu membuat keluargamu menahan malu. Malu yang sengaja kamu torehkan pada bola mata keluargamu. Kamu yang Tak pernah pulang. Bila mood ingin pulangmu datang, Ibu hanya jadi temanmu beradu mulut. Hormatmu tak berbekas.
Sering sekali kamu kirim berita buruk ketelinga adik dan orangtuamu. Sudah menikahlah, punya utanglah, narkobalah, gonta-ganti pacar dan hal-hal buruk lainnya. Kamu menyangkal itu.

Kusembunyikan laku burukmu pada sang ayah kak…
Tapi cuma sementara. Bau busuk bangkai yang ditutupi akhirnya tercium juga. Apalagi setelah, kedatangan seorang perempuan 10 tahun lebih tua darimu mengaku sebagai istrimu ke rumah, stroke ayahmu semakin menjadi. Keesokannya, malapetaka terjadi kembali karena lima orang pemuda bertato bertandang kerumah dengan marah-marah menagih hutangmu.

Kali ini sungguh membuatku tak mengampunimu, ayah terjatuh dari kursi rodanya karena kejang tubuhnya yang bergunjang hebat akibat kedatangan lima pemuda bertato itu mencarimu. Aku marah. Tiba-tiba tak terkendali, melindungi ayah. Mereka pergi saat melihat ayah tumbang dari kursi rodanya. Dan…Kau datang tiba-tiba.

Ayah, kau panggil pria yang tergeletak di atas lantai itu
Ibu menyumpahimu,
Puas kah kau melihat kami seperti ini, ucapnya
Ibu, maafkan aku
….
M-a-a-f ayah
Ucapmu,

Kamu lari masuk kedalam rumah, kau ambil sebaskom air. Tak kamu hiraukan Tanya ibu untuk apa. Air itu kamu siramkan ke kaki ibumu, Dan tanpa rasa jijik, kamu ciumkan wajahmu ke sepasang kaki bergambar surga itu. lama sekali. Sangat lama. Dan…tiba-tiba sang ibu memelukmu. Menangis. Dia mengampunimu, memaafkanmu, tangis dan peluk itu bermakna.

Kemudian, giliran ayahmu. Kamu lakukan hal yang sama di atas kakinya. Kata maaf dan ciuman. Sang ayah tak mampu berucap apapun. Dia juga menangis. Menangisimu. Semua seperti ada yang mengetukmu. Kamu yang kusebut laki-laki gagah itu, kini tak berdaya. Tak berdaya karena kata-kata keramat ibumu.

Tak ada lagi dadamu yang membusung itu.
Tak ada lagi raut wajah yang bengis itu.
Tak ada lagi hati yang membatu itu
Tak ada lagi ucapmu yang sombong
Yang ada hanyalah kekalahan.
Kamu kalah.
KALAH.





Tabik, enha.
Kisahmu akan selalu menghantui sudut pikirku.

Monday, December 21, 2009

selamat hari ibu, mak....


mak...
seiring waktu menempa hidupmu
tak banyak yang kau pinta dari anak-anakmu

mak..
seiring doa yang kau panjatkan buatku dan abang
tak pernah kau sebut pamrihmu

mak...
seiring masa yang kulalui bersamamu
hari ini aku berdiri di hari yang sama, sama persis seperti setahun yang lalu.
sama persis seperti dua tahun yang lalu. dan sama persis seperti duapuluh tahun yang lalu. tapi tak pernah sama sekali bibir ini terucap, selamat hari ibu, buatmu.

mak....
aku tahu, kau tak butuh ucapan itu
kau tak perlu disebut ibu atau perempuan sejati karena kalimat itu.
kau sudah cukup menjadi sejati tanpa sebutan dan ucapan itu.

mak...
anakmu ini penuh (ke)salah(an)
anakmu tak kan mampu membalas segala bentuk kasihsayangmu

mak...
injinkan aku ucap happy mom's day for you. delapanpuluhsatu tahun sudah HARI mu terdeklarasi,untuk menghargai bakti mu kepada keluarga (suami dan anak-anakmu).
diiringi doa tulusku buatmu
doa yang biarlah hanya Tuhan yang tahu
seperti dirimu yang tak pernah memberi tahu isi doamu buatku dan abang.
yang kutahu hanyalah, mengapa tuhan mengabulkan keinginanku tibatiba...
dan..
aku menangis,
itu semua karena doa mu, yang baru aku sadari.


makku,...
kami menyayangimu,


anakmu






waktu jua yang menempaku

Sunday, December 20, 2009

Jabat Tanganku, Walau Tuk Terakhir Kali



Lama sekali
ku tak dengar “suaramu”
Mungkin kau juga rasakan itu
Lamaaa.. sekali
Seperti ada tabir yang membuat kita tak pernah berbisik dan bertatap lagi.
Egois
Ya. E—G—O—I—S ,
Ternyata tabir itu—egois,
Egois ku
Dan juga kau
Saling bertahan pada pikiran masing-masing
Hanya bisa mengadili “ku dan mu” dalam pikiran saja
Tak ada kata berbagi lagi
Atau, ingin menjadi sang juara?
jika sang juara hanya menang dalam pertandingan yang seharusnya tak dikompetisikan
Sungguh tak adil,
….
Lama sekali memang ,
Sebuah percakapan kecil yang dulu sering “ku dan mu” lakukan
Walau Sering kali isi percakapan kosong—tapi tak ada sesal dalam diri
Egois “ku dan mu” memaksa hati “ku dan mu” memilih jalannya sendiri
Kini , HAI saja, begitu berat “ku dan mu” ucapkan
SMS pun tak sering terkirim pada “ku dan mu”
“ku dan mu” terperangkap oleh kejahatan egois
Atau lebih tepatnya mengasyikan diri dengannya
menjadikan sang egoisitas sebuah kewajaran

Sudah cukup
cukup kukira tuk akhiri ini,
aku mulai bertengkar dengar egoisku
Hati kecil ini berontak
Sudahlah…
Sudah.
Aku yang harus mengawali,
Kawan, Ku hanya ingin mengatakan—sebelum semuanya kusesali,
Jabat tanganku
Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya
Peluk tubuhku
Mungkin peluk ini pun untuk yang terakhir kalinya
Maaf lahir batinku padamu
Kuusap air mata “ku dan mu”
Kini aku pun tahu
Dunia begitu indah—maka aku menangis sepuasnya,


Tabik Nurul,