Tuesday, January 17, 2012

Jatuh Cinta Pada Anies Baswedan



Doa sebelum tidur:

Perkenankanlah saya marah kepada keadaan ini,

tapi hentikanlah bila saya marah kepada tanah air yang hanya ini.*@gm_gm



Saya pernah menulis “mungkin tuhan telah mengutuk kaum muda untuk selalu merasa galau/gelisah”. Galau sama dengan anak muda. Galau = kaum muda.

Galau akan jati diri, galau akan masa depan, galau akan pendidikan, galau akan pekerjaan, gelisah akan tanah air, galau tentang hidup.

Dua-tiga tahun terakhir ini saya punya idola baru. Tokoh muda yang saya kagumi di negeri ini. Tokoh muda itu adalah Anies Baswedan. Awalnya, karena wajah beliau sering kali menghiasi televisi sebagai narasumber sebuah talk show atau acara-acara sejenisnya, entah kenapa saya ada “hati” dengan orang ini. Dan Entah kenapa, setiap kali mendengar beliau memberikan tanggapan, komentar, atau analisa tentang kebangsaan dan Indonesia selalu membangkitkan rasa Nasionalisme saya. Maka beruntunglah saya, karena hidup di zaman saat ini, dimana pak Anies Baswedan menjadi salah satu tokoh muda yang menginspirasi.

Dan yang membuat saya makin “jatuh cinta” kepada pak Anies adalah saat beliau menggagas sebuah program “Indonesia Mengajar”. Meski saya tak pernah bertemu secara langsung dengan beliau, saya merasa energi keprihatinan untuk perubahan Indonesia yang beliau sedang dan akan terus tularkan pada anak-anak muda Indonesia benar-benar menjelma dalam diri saya. Maka terimakasih saya pada perkembangan jejaring sosial yang mempermudah “hubungan” kami. Yaah...memang sih, meski saya follower beliau, selama ini tak ada komunikasi atau bahkan mention yang saya tulis buat beliau. Saya sudah merasa cukup “kenal” dengan beliau melalui membaca kicau-kicauannya saja. Sampai detik ini saya belum pernah berkomunikasi dengan beliau. Tapi saya merasa beliau “sering sekali” mengobrol dengan saya. Salah satu “percakapan” beliau yang membuat air mata menggenangi kedua pelupuk mata saya seketika itu juga adalah melalui tulisan yang berjudul : Surat untuk Anak-anak Muda Indonesia

Dibawah ini adalah surat beliau. Meski hanya melalui tulisan beliau sudah menyentuh hal yang paling berharga yang saya miliki sebagai manusia: hati. Saya sengaja menyadurnya kembali, untuk dokumentasi ingatan saya.

Surat untuk anak-anak muda Indonesia.*

Saya menulis khusus pada Anda dengan sebuah keyakinan bahwa kita bersama bisa saling dukung demi kemajuan republik dan bangsa kita. Saya yakin karena sejarah sudah membuktikan bahwa republik ini berdiri, tumbuh, berkembang, dan maju seperti sekarang karena ditopang oleh anak-anak muda yang tecerdaskan, tangguh, dan energik seperti Anda.

Hari ini kondisi kita jauh lebih maju daripada saat kita menyatakan merdeka. Saat republik berdiri, angka buta huruf adalah 95%. Saya membayangkan betapa beratnya beban para pemimpin republik muda di waktu itu. Mereka harus menggerakkan kemajuan dari nol, dari nol besar. Puluhan juta rakyatnya sanggup berjuang dalam revolusi kemerdekaan, tapi tidak sanggup menuliskan namanya sendiri.

Hari ini melalui kerja kolektif seluruh bangsa, kita berhasil memutarbalikkan hingga tinggal 8% yang buta huruf. Tidak banyak bangsa besar di dunia yang dalam waktu 60 tahun bisa berubah sedrastis ini.

Itu prestasi kolosal, dan kita boleh bangga. Tapi daftar masalah yang belum terselesaikan masih panjang. Melek huruf adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah akses yang merata, akses untuk setiap anak pada pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas adalah kunci mengkonversi dari kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan, menjadi bangsa yang cerdas, adil, dan makmur.

Garda terdepan dalam soal pendidikan ini adalah guru. Di balik kompleksitas perdebatan yang rumit dan panjang soal sistem pendidikan, soal kurikulum, soal ujian, dan semacamnya, berdiri para guru. Mereka bersahaja, berdiri di depan anak didiknya; mereka mendidik, merangsang, dan menginspirasi.

Dalam himpitan tekanan ekonomi, mereka hadir di hati anak-anak Indonesia. Hati mereka bergetar setiap melihat anak-anak itu menjadi orang di kemudian hari. Setiap ucapan terimakasih adalah tanda atas pahala guru-guru ini. Mereka adalah profesi terpercaya, pada pundak guru-guru ini kita titipkan persiapan masa depan republik ini.

Hari ini kita berhadapan dengan masalah: variasi kualitas guru dan distribusi guru. Menghadapi masalah ini kita bisa berkeluh kesah, menyalahkan negara dan menuding pemerintah. Atau kita gulungkan lengan baju dan berbuat sesuatu.

Saya mengajak kita semua untuk turun tangan. Libatkan diri kita untuk mempersiapkan masa depan republik. Untuk kita, untuk masa depan anak-anak kita, dan untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saat ini saya dan banyak kawan seide sedang mengembangkan program Indonesia Mengajar, yaitu sebuah inisiatif dengan misi ganda: pertama, mengisi kekurangan guru berkualitas di Sekolah Dasar, khususnya di daerah terpencil; dan kedua menyiapkan lulusan perguruan tinggi untuk jadi pemimpin masa depan yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kedekatan dengan rakyat kecil di pelosok negeri.

Kami mengundang putra-putri terbaik republik ini untuk menjadi Pengajar Muda, menjadi guru SD selama satu tahun. Satu tahun berada di tengah-tengah rakyat di pelosok negeri, di tengah anak-anak bangsa yang kelak akan meneruskan sejarah republik ini.

Satu tahun berada bersama anak-anak di dekat keindahan alam, di pesisir pulau-pulau kecil, di puncak-puncak pegunungan dan di lembah-lembah hijau yang membentang sepanjang khatulistiwa. Saya yakin pengalaman satu tahun ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa Anda lupakan: desa terpencil dan anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari diri Anda.

Di desa-desa terpencil itu para Pengajar Muda akan menorehkan jejak, menitipkan pahala; bagi para siswa SD di sana, alas kaki bisa jadi tidak ada, baju bisa jadi kumal dan ala kadarnya tapi mata mereka bisa berbinar karena kehadiran Anda.

Anda hadir memberikan harapan. Anda hadir mendekatkan jarak mereka dengan pusat kemajuan. Anda hadir membuat anak-anak SD di pelosok negeri memiliki mimpi. Anda hadir membuat para orang-tua di desa-desa terpencil ingin memiliki anak yang terdidik seperti anda.

Ya, ketertinggalan adalah baju mereka sekarang, tapi Anda hadir merangsang mereka untuk punya cita-cita, punya mimpi. Mimpi adalah energi mereka untuk meraih baju baru di masa depan. Kemajuan dan kemandirian adalah baju anak-anak di masa depan. Anda hadir di sana, di desa mereka, Anda hadir membukakan pintu menuju masa depan yang jauh lebih baik.

Sebagai Pengajar Muda, Anda adalah role model, Anda menjadi sumber inspirasi. Kita semua yakin, mengajar itu adalah memberi inspirasi. Menggandakan semangat, menyebarkan harapan dan optimisme; hal-hal yang selama ini terlihat defisit di pelosok negeri ini.

Bukan hanya itu, selama satu tahun para Pengajar Muda ini sebenarnya akan belajar. Pengalaman berada di pelosok Indonesia, tinggal di rumah rakyat kebanyakan, berinteraksi dekat dengan rakyat. Menghadapi tantangan mulai dari sekolah yang minim fasilitas, desa tanpa listrik, masyarakat yang jauh dari informasi sampai dengan kemiskinan yang merata; itu semua adalah wahana tempaan, itu pengembangan diri yang luar biasa.

Anda dibenturkan dengan kenyataan republik ini. Anda ditantang untuk mengeluarkan seluruh potensi energi Anda untuk mendorong kemajuan. Satu tahun ini menjadi leadership training yang luar biasa. Sukses itu sering bukan karena berhasil meraih sesuatu, tetapi karena Anda berhasil menyelesaikan dan melampaui tantangan dan kesulitan. Setahun Anda berpeluang membekali diri sendiri dengan resep untuk sukses.

Apalagi, kita semua tahu bahwa: You are a leader only if you have follower. Keberhasilan Anda menjadi leader di hadapan anak-anak SD adalah pengalaman leadership yang kongkrit.

Biarkan anak-anak itu memiliki Anda, mencintai Anda, menyerap ilmu Anda, mengambil inspirasi dari Anda. Anda mengajar selama setahun, tapi kehadiran Anda dalam hidup mereka adalah seumur hidup, dampak positifnya seumur hidup.

Sesudah satu tahun menjadi Pengajar Muda, Anda bisa meniti karir di berbagai bidang. Anda memulai karir dengan bobot pengalaman dan nilai kepemimpinan yang luar biasa. Saya sering tekankan: your high GPA will get you a job interview, but your leadership gets you the bright future.

Setahun menjadi Pengajar Muda tidak akan membuat Anda terlambat dibandingkan kawan-kawan yang tidak menjadi Pengajar Muda. Perusahaan-perusahaan, institusi masyarakat, dan lembaga pemerintahan semua akan memandang Anda sebagai anak-anak muda yang cerdas, berpengalaman, kreatif, berkepemimpinan kuat, konstruktif, dan grounded. Mereka sangat mencari anak-anak muda seperti itu. Mereka akan membuka lebar pintunya bagi kehadiran Pengajar Muda.

Sejak awal bulan Juni 2010 Gerakan Indonesia Mengajar membuka peluang bagi bakat-bakat muda terbaik bangsa seperti Anda, dari berbagai disiplin ilmu dan dari dalam negeri maupun dari luar negeri, untuk menjadi Pengajar Muda.

Sarjana yang direkrut oleh Gerakan Indonesia Mengajar hanyalah best graduate, sarjana-sarjana terbaik: berprestasi akademik, berjiwa kepemimpinan, aktif bermasyarakat, kemampuan yang komunikasi baik.

Sebelum berangkat, Anda akan dibekali dengan pelatihan yang komplit sebagai bekal untuk mengajar, untuk hidup dan untuk berperan di pelosok negeri. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda akan mendapatkan gaji yang memadai dan kompetitif dibandingkan kawan Anda yang bekerja di sektor swasta.

Anda akan dibekali dengan teknologi penunjang selama program dan jaringan yang luas untuk memilih karier sesudah selesai mengabdi sebagai Pengajar Muda. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda tidak akan dibiarkan sendirian. Kami akan hadir dekat dengan Anda.

Seselesainya program ini, Anda meniti karier sebagai anak-anak terbaik bangsa. Dalam beberapa tahun ke depan, Anda menjadi garda terdepan Indonesia di era globalisasi baik di sektor swasta maupun publik. Kelak Anda menjadi pemimpin di bidang masing-masing dengan kompetensi kelas dunia dan ditopang pemahaman mendalam tentang bangsa sendiri.

One day you become world class leader, but grounded and strong roots in the heart of the nation. Suatu saat mungkin Anda menjadi CEO, menjadi guru besar, menjadi pejabat tinggi, atau yang lainnya, saat itu di posisi apa pun, Anda selalu bisa mengatakan bahwa “Saya pernah hidup di desa terpencil dan mengabdi untuk bangsa ini”; hari ini kita bisa dengan mudah menghitung berapa banyak kalangan sipil yang sanggup mengatakan kalimat itu.

Di atas segalanya, program ini menawarkan kesempatan untuk setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi anak bangsa. Setahun menempa diri, seumur hidup memancarkan gelora kepemimpinan.

Saya menggugah, sekaligus menantang Anda. Saya mengajak Anda untuk bergabung bersama Indonesia Mengajar. Menjadi bagian dari ikatan untuk membangun Indonesia kita.

***

Surat pak anies lah yang membuat saya yang meyakinkan apa yang saya yakini itu tak salah lagi. Jauh sebelum saya membaca surat ini, pikiran dan hati saya sedang di gelisahkan oleh arti diri saya untuk bangsa ini. Apa arti hidup saya untuk tanah air ini. Apa sumbangsih besar saya untuk negeri yang hanya ini. Negeri yang hanya satu-satunya membuat saya bangga untuk memilikinya.

Kegelisahan saya tentang apa guna diri buat orang lain, buat bangsa, agama dan negara. Seperti doa atau keinginan setiap orang tua kepada anak-anaknya kelak, agar menjadi anak yang berguna bagi bangsa, agama dan negara. Kegelisahan ini begitu sangat mengganggu saya, apalagi saat menjelang akhir kelulusan saya di perguruan tinggi. Anak muda seperti saya ini memang sedang butuh figur seperti beliau, Anies Baswedan.

Setelah membaca surat pak Anies, pikiran saya semakin menguat, kegelisahan saya berangsur menurun, hati saya semakin teguh pendirian bahwa saya akan segera melakukan sesuatu buat bangsa ini, meski kecil. Seperti tulisan terakhir yang pak anies tulis ” One day you become world class leader, but grounded and strong roots in the heart of the nation. Suatu saat mungkin Anda menjadi CEO, menjadi guru besar, menjadi pejabat tinggi, atau yang lainnya, saat itu di posisi apa pun, Anda selalu bisa mengatakan bahwa “Saya pernah hidup di desa terpencil dan mengabdi untuk bangsa ini”; hari ini kita bisa dengan mudah menghitung berapa banyak kalangan sipil yang sanggup mengatakan kalimat itu. “Saya menggugah, sekaligus menantang Anda. Saya mengajak Anda untuk bergabung bersama Indonesia Mengajar. Menjadi bagian dari ikatan untuk membangun Indonesia kita”.

Meski saya bukan pendidik. Bukan lulusan dari fakultas keguruan. Tapi saya tertarik. Walaupun modal terbesar saya hanyalah keinginan berbagi dan menularkan spirit buat anak-anak Indonesia. Saya pun berencana akan mengikuti program tersebut.

Lagi-lagi, saya merinding sekujur tubuh. Pak anies seperti mencolek hati saya melalui tulisan beliau yang berjudul:

Hari Keberangkatan Pengajar Muda.**

Pagi tadi langit masih agak gelap. Tepat pukul 05.20 Pengajar Muda resmi dilepas di Bandara Soekarno-Hatta. Di bandara yang membawa nama pahlawan proklamator Indonesia dan di hari saat republik tercinta merayakan Hari Pahlawan.

Hari ini Pengajar Muda berangkat. Hari ini usai sudah gemblengan tujuh minggu, gemblengan kepemimpinan dan kepengajaran.

Bandara ini dinamai Soekarno-Hatta. Dua tokoh ini sesungguhnya memiliki peluang untuk meniti karier di bidangnya, hidup nyaman, dan sangat sejahtera untuk dirinya dan untuk keluarganya.

Tapi mereka memilih untuk berjuang; pembuangan dan penjara bukan halangan. Mereka berjuang membebaskan bangsanya dari kolonialisme. Tanda pahala mereka kini langgeng menempel di setiap jiwa Indonesia.

Pagi ini di bandara yang membawa nama pahlawan inilah para Pengajar Muda meninggalkan kenyamanan kota. Mereka anak-anak usia muda. Mereka cerdas dan berprestasi. Mereka memancarkan potensi kepemimpinan yang solid. Peluang materi besar yang ada di hadapannya mereka tinggalkan.

Mereka tanggalkan pekerjaan mapan mereka, mereka lepaskan peluang kerja bergaji tinggi. Anak-anak muda terbaik ini memilih berangkat ke pelosok Indonesia. Di Hari Pahlawan ini mereka memulai langkah menjadi guru SD di desa-desa terpencil.

Menjadi guru itu mulia. Menjadi guru itu wajar. Dan, adanya guru di pelosok negeri itu biasa. Tetapi kali ini kita melihat fenomena yang berbeda. Anak-anak muda terbaik meninggalkan kemapanan kota, melepaskan peluang karier dan melewatkan semua kenyamanan lalu memilih menjadi guru SD di desa-desa tanpa listrik.
Berangkatnya mereka ke desa terpencil untuk mengajar bukanlah sebuah pengorbanan, itu adalah sebuah kehormatan, kata Abah Iwan Abdurrahman. Mereka mendapatkan kehormatan untuk melunasi sebuah janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

51 Pengajar Muda ini hadir dan membuat nuansa yang berbeda tentang Indonesia. Sejak Gerakan Indonesia Mengajar diumumkan bulan Mei 2010 kita seakan ditunjukan dengan wajah lain tentang anak-anak muda Indonesia.

Sejak awal sudah jelas-jelas dinyatakan bahwa program ini akan menempatkan anak-anak muda di pelosok negeri, yang sebagian besar belum terjamah listrik ataupun sinyal telepon selular. Tapi tantangan itu justru dijawab secara kolosal. Ada 1.383 anak muda menyatakan siap untuk jadi guru di daerah terpencil.

Mereka menulis essai yang sangat menggugah. Mereka beberkan alasan mengapa mereka siap, sanggup dan ingin sekali menjadi guru di pelosok negeri. Mereka seakan menuliskan: Indonesia, aku ingin mengajar. Kami tertegun!

Selama proses seleksi, dipampangkan di depan kita deretan anak-anak muda Indonesia yang cerdas, tangguh, kreatif, idealis dan ingin berjuang. Mereka membuktikan bahwa republik ini tidak berubah, ibu-ibu di republik ini tetap melahirkan pejuang, ibu kita tetap melahirkan anak-anak promotor kemajuan. Mereka adalah bukti otentiknya. Kami takjub dan tergetar.

51 Pengajar Muda memilih untuk mengabdi di ujung negeri, menjadi guru dan tinggal bersama masyarakat biasa. Rakyat di pelosok sana sudah hapal janji kemerdekaan, tapi kita tak kunjung melunasi janji itu.

Hari ini mereka berangkat. Tidak mudah apa yang akan mereka akan lalui selama satu tahun ke depan, tetapi semua yang sulit sesungguhnya adalah pelajaran hidup. Dan when the going gets tough, the tough gets going; mereka tangguh dan insyaAllah mereka akan lewati dengan kesungguhan.

Saya pernah sampaikan, sukses itu sering bukan karena berhasil meraih sesuatu tetapi karena berhasil menyelesaikan dan melampaui tantangan dan kesulitan.

Dan untuk teman-teman Pengajar Muda, hari ini adalah saatnya. Saat meneguhkan niat serta menguatkan kemauan luhur itu. Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi dan berbinar menyaksikan kehadiranmu.

Setelah selesai program ini maka label Pengajar Muda akan menempel seumur hidup. Anda kenal dan bagian dari rakyat jelata. Anda pernah hidup bersama mereka di pelosok sana, dan yang terpenting adalah anda sebagai anak-anak muda terbaik ini telah ikut –sekecil apapun- mendorong kemajuan, mengubah masa depan mereka jadi lebih cerah.

Jejak kalian di desa-desa terpencil itu akan dicatat dengan pahala, akan ditandai dengan peluk persaudaran dan bersemai di kenangan anak-anak desa hingga generasi mendatang. Kelak, setiap anak-anak desa itu berhasil meraih mimpinya, maka pahala kalian selalu ada didalamnya.

Teman-teman Pengajar Muda tercinta, teguhkan niatmu. Datangilah desa-desa terpencil itu dengan keikhlasan, dengan rendah hati, dengan kesantuan, dengan kasih sayang. Sambutlah kehadiran anak-anak SD itu di kelasmu dengan rasa cinta, belai rambut mereka dengan kasih, tatap wajah polos mereka dengan pancaran senyum dan berikan yang terbaik darimu untuk mereka.

Izinkan anak-anak SD di desa-desa terpencil itu berbinar melihatmu, belajar untuk maju darimu, mencintai ilmu darimu dan memandangmu sebagai visualisasi mimpi mereka dan visualisasi mimpi orang tua mereka.

Izinkan mereka bermimpi bisa meraih apa-apa yang anda sudah raih. Tebarkan kesabaran, tumbuhkan pengetahuan, dan tanamkan ketangguhan berjuang di dada mereka.

Teman-teman Pengajar Muda tercinta, samudra peluang mengabdi itu ada di hadapanmu. Arungi dengan semangat, arungi dengan optimisme, arungi dengan pengetahuan.

Dan kelak kembalilah dengan berderet tanda pahala di pundakmu. Pahala langgeng dan kenangan permanen yang bisa kalian ceritakan sampai pada anak-cucu nanti.

Saya tulis ini semua dengan rasa haru, rasa bahagia, rasa bangga, dan dengan gelora optimisme. InsyaAllah, Indonesia kita akan menjadi lebih baik, lebih maju lewat langkah-langkah kecil ini.

Gema syair lagu Padamu Negeri yang dinyanyikan oleh 51 Pengajar Muda tadi pagi di Bandara Soekarno-Hatta seakan menggema di ruang kerja ini.

Bersyukur sekali, akhirnya di Hari Pahlawan kali ini ditaqdirkan menyaksikan dan melepas para pejuang. Di Hari Pahlawan ini, satu langkah kecil diayunkan untuk ikut melunasi sebuah janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Semoga keihklasan selalu menjadi bagian dari ikhtiar ini.

Saya jabat satu per satu. Jabat dengan erat. Saya tatap mata mereka. Bening mata kita, ada ambangan air menyerupai cermin. Tak ada banyak kata yang diucap. Hati kitalah yang saling berjawab. Selamat jalan teman-teman Pengajar Muda. Selamat berjuang.

Padamu negeri kami berjanji…
Padamu negeri kami berbakti…
Padamu negeri kami mengabdi…
Bagimu negeri jiwa raga kami…

...

Air mata saya juga mengambang. Seolah saya juga sedang bertatapan dengan pak anies. Membuat saya semakin jeolous saja. Iri hati, kapan saya juga akan berbuat demikian. Bertambah parah saja keinginan saya mengikuti program tersebut.

Seperti biasa, keinginan itu menjadi buah bibir dibenak saya. siang-malam tak henti-hentinya berimaji menjadi bagian dari Pengajar Muda.

Namun beberapa hari kemudian saya mengurungkan niat saya. Alasannya adalah tiba-tiba saja pikiran saya menyeruak di kampung halaman. Pikiran ini tak henti-hentinya menggambarkan kondisi kampung masa kecil saya, lingkungan, dan anak-anak di sekitar rumah saya. entahlah, ada kegelisahan dikampung kecil saya. Dan pikiran saya kembali gelisah. Sepertinya harus ada yang saya lakukan untuk “negeri kecil” saya. Negeri kecil atau kampung saya butuh figur yang menginspirasi terutama untuk anak-anak. Mungkin saya tak pantas untuk jadi inspirasi mereka. Tapi, jika saya harus menunggu orang lain untuk menjadi inspirator, KAPAN? Saya sudah tak “betah” lagi! Saya harus mulai saat ini. Mulai dari diri saya. Saya ingin bangun kampung ini, melalui berbagi sesuatu dengan anak-anak. Berbagi ilmu, berbagi cerita hidup, berbagi buku, berbagi semangat, berbagi cinta dan berbagi mimpi. Saya percaya kata Lennon, a dream you dream alone is only a dream, but a dream you dream together is reality. Dan saya sedang mencoba mempercainya dan akan terus mempercayainya bahwa keyakinan ini benar adanya.

Jika anak-anak “Indonesia Mengajar” akan menginspirasi anak-anak di kampung orang, saya akan berusaha terus memberi semangat pada diri dan terus semangat menyemangati orang lain: menginspirasi anak-anak dikampung kecil saya. Karena saat ini, mereka “butuh” saya. inilah hal kecil yang mungkin dapat saya lakukan.


*/** diunduh dari

www.IndonesiaMengajar.com

tertanggal 18.08.2011/ 09:44 am



gambar dari:ariffst.wordpress.com


Tuesday, October 25, 2011

kereta ekonomi, saya dan hujan




kereta tiba pukul brapa, kata iwan fals.

tapi bukan kereta tiba, yang saya tanya.
kreta berangkat pukul berapa, saya sedang menunggu.
hujan mengiringi sejak tadi;
Romantis sekali;) kata teman dalam smsnya.


masih hujan.
sirine kreta bunyi.
kretapun membawa saya berangkat.
dan masih romantis.


teringat kawan, dia bilang ketika dalam kereta selalu menghadirkan harapan2 besar,
namun ketika mata melihat keluar melalui jendela kereta selalu menghadirkan hal-hal yang tua, majenun, dan ketololan. begitulah si zaki.


masih dikreta. jauh dari pusat stasiun jember.
hujan sudah tak kelihatan disini.
meski mendung menggelayut minta hujan segera turun.
maka benarlah kata zaki, jika di luar kreta begitu nampak kemajenunan dan tua.


pagi yang menghadirkan harapan2
dan siang yang terkadang hadir dengan kekalahan hati,
hinggga membuat malam, pantas untuk meyerahkan semua yang telah bersikap tak adil.



malam sudah jelas-jelas menampakkan diri,
membawa seribu kebisuan dengan segala kesunyian,
ditenganh teriakanteriakan keras dalam hati para penghuninya.
itu, malam ini.

Monday, October 17, 2011

Pada ia yang Kau titipkan pada waktu (dua)




Aku hanya perempuan biasa, yang berharap waktu dan tuhan tak kan ingkar janji. Aku tahu tuhan mempercayai waktu. Aku tahu tuhan tak main-main atas sumpahnya pada waktu. Ia akan datang sesuai janji-Nya. Aku percaya waktu, tuhan dan juga ia.
Kelak ia, aku dan waktu bertemu atau dipertemukan. Terserah tuhan sajalah, enaknya bagaimana.
Atur saja.
Untuk sementara, meyakini “kebenaran” itu hari ini, cukup menguatkan buatku.




Untuk ia yang dititipkanNya, pada waktu.
Tertanda, aku.
26.08.11/15:00

Dan Berkawan Kegelisahan




Dua hari ini aku sedang membaca bukunya John Perkins yang berjudul Membongkar kejahatan jaringan internasional, kelanjutan buku pertamanya yang laris manis, tapi belum sempat aku baca. John adalah penulis best seller The Confession Economic Hit Man, pengakuan seorang bandit ekonomi dunia. Negeriku dijadikan korban pertamanya dalam aksi biadabnya. Pemimpin negeriku ia jadikan konglomerat, Bangsaku ia jadikan melarat.

Belum selesai terbaca semua memang, tapi tiba-tiba aku menyesal membaca bukunya. Aku menyesal mengetahui ini semua, meski belum semua kejahatan john yang aku ketahui. Menyesal kenapa aku baru tahu. Dan baru sadar ternyata, negeri kecintaan ini telah begitu kejam direkayasa oleh seorang atau kelompok asing tak punya hati. Ditambah lagi penyesalanku, bahwa mereka yang asing itu di dukung oleh orang-orang yang berkuasa di negeri ini. Untuk memperkaya diri. Hah!
Ekonomi negeri ini dibuat kacau balau oleh korporat-korporat yang kehilangan nurani. Negeri ini dibuat menanggung hutang luar negri yang melangit. Hutang yang entah sampai kapan akan terlunasi.

Secara imaginer, aku berkata pada John. John, kenapa kau begitu jujur mengungkap ini semua! Kau terlalu jujur john, hingga membuat aku ingin muntah!!
Namun, detik itu juga aku juga berterimakasih pada John Perkins atas kejujurannya ini. Terimakasih telah memelekkan mata dan membersihkan kotoran telingaku yang tersumbat oleh rasa ketidakingintahuan! mata dan telinga yang selama ini butatuli terhadap semesta negeriku!

John Perkins menyesali perbuatannya menjadi bandit ekonomi, kaki tangan Amerika serikat. John Perkins sedang bertaubat. Dua buku best seller itu buktinya.
Aku harus tega mendengar dan membaca cerita john ini, dan berniat akan menyelesaikan hingga halaman terakhir. Semoga saja aku kuat. Dan tak bertambah gelisah.


Pause.


Aku seorang anak laki-laki berkacamata, berseragam abu-abu yang sedang siap-siap berangkat menimbah ilmu. Aku sedang memasang kaos kaki putihku, sewaktu kakak perempuanku menggorengkan nasi sisa semalam untuk sarapan pagi ini. Bapak sedang menonton berita melalui siaran telivisi. Televisi swasta nasional yang kerjanya tak ada yang lain selain mencekoki informasi. Korupsi, koruptor, fitnah, mafia, penegak hukum yang tak berpihak pada kaum papa. Negeri ini sudah ibarat negeri amplopnya gus mus. Amplop-amplop di negeri amplop mengatur dengan teratur/Hal-hal yang tak teratur menjadi teratur,hal-hal yang teratur menjadi tak teratur/Memutuskan putusan yang tak putus,membatalkan putusan yang sudah putus/Amplop-amplop menguasai penguasa, dan mengendalikan orang biasa/Amplo-amplop membeberkan dan menyembunyikan/Mencairkan dan membekukan/Mengganjal dan melicinkan/Orang bicara bisa bisu/Orang mendengar bisa tuli/Orang saleh bisa nafsu/Orang sakti bisa mati/Dinegeri amplop, amplop-amplop bisa meng-amplopi siapa-apa saja/
Nonton berita, adalah kebiasaan bapak. Setelah sholat subuh, jam 5 ia sudah mulai aktivitasnya tersebut. Aku takut, bapak terpengaruhi wacana-wacana media yang mengambang. Dan terkadang tak bertanggung jawab.

Pagi ini ada tambahan pelajaran, hal biasa buat anak kelas 3 sepertiku. Aku harus berangkat lebih pagi dari biasanya. segera saja aku sarapan nasi goreng buatan kakak perempuanku. Lima menit setelah makan, beranjak dari kursi makan menuju bapak yang sedang asyik duduk berselonjor di depan televisi tak ber-remot itu. aku hendak pamit. sedikit resah tiba-tiba, takut kalau si bapak akan menggelontorkan nasehat kacau yang menjadi kebiasaannya.
Tak luput. Si bapak mulai lagi, meracau.....


Nak, dengarlah bicara bapakmu
yang kenyang akan hidup terang dan redup
Letakkan dulu buku itu

Duduk dekat bapak, sabar mendengar
Kau anak harapanku yang lahir di zaman gersang
Segala sesuatu ada harga karena uang


Aku duduk terdiam disebelah kursinya, sambil menundukkan kepala dan buku si bandit kutaruh dipangkuan. Dan bapak menambah racauannya.

Kau anak dambaanku, yang besar di kancah perang
Kau harus kuat, Yakin pasti menang

Sekolah lah, biasa saja, jangan pintar-pintar,percuma!
Latihlah bibirmu, agar pandai berkicau, sebab mereka sangat perlu kicau yang merdu
Sekolah buatmu hanya perlu untuk titel
Peduli titel dikandang atau titel mukzijat

Sekolah buatmu hanya untuk gengsi
agar mudah bergaul tentu harus banyak relasi

Jadi penjilat yang paling tepat
Karir mu cepat uangkan ku dapat


Tiba-tiba, bapak diam-tatapan kosong sambil menghentak-hentakkan kaki kanannya bersentuhan dengan lantai, naik-turun, cepat-cepat kemudian melambat.
Ah, bapak sudah semakin stres, kataku dalam hati! Ini akibat jamu pahit yang dicekokkan pada telinga dan matanya oleh mulut-mulut manis si pembaca berita itu. Semakin bertambah kencang saja debar jantungku. Tuhan, tolong aku!
Racauannya bertambah gila, seperti berteriak. Meledak hendak memakanku. Aku ketakutan.

Pilihlah jalan yang bagus tak ada paku
Sebab paku itu sadis, apalagi yang ber-karat
Jadilah kancil yang sadar akan buaya
Sebab seekor kancil sadar akan bahaya
Jadilah bandit berkedok jagoan
Agar semua sangka engkau seorang pahlawan
Jadilah bunglon jangan sapi
Sebab seekor bunglon pandai baca situasi
Jadilah karet jangan besi
Sebab bahan karet paham kondisi


Aku meliriknya diam-diam. Bapak tak menolehku sedikitpun. Matanya tertuju pada televisi. Berita isinya sampah semua! Katanya sambil menoleh sedikit ke wajahku. Aku menunduk.

Kami berdua terdiam.

Dan...
Ia mulai lagi, kali ini sedikit berbisik....

Hidup sudah susah jangan dibikin susah
Cari saja senang walau banyak utang


Bertambah pelan suaranya,

Munafik sedikit jangan terlalu jujur
Sebab orang jujur hanya akan dikemih
Pilihlah jalan yang mulus tak banyak batu
Sebab batu-batu bikin jalan mu terhambat


Bapak mengakhiri racauannya, sambil menyodorkan tangan kanannya ke mukaku, isyarat untuk menciumnya. Dan akupun berdiri serta berucap salam. Kumulai langkahku menuju ke sekolah. 30 menit kemudian, sampailah di depan gerbang sekolah. Memasuki gerbang sekolah, dan tiba-tiba pagi sesejuk ini terasa begitu berat kepalaku dan sedikit berkunang-kunang. Kelas sudah dimulai, segera masuk saja tanpa permisi. Duduk di bangku, dengan sedikit melamun. Pikiranku kemana-mana sampai jam pelajaran tambahan usai. Lamunanku tak terbuyarkan hingga sekolah usai pukul 13.30 siang. Entahlah, aku bingung.
Aku pulang dengan buku si bandit John Perkins didekapan tangan kanan. Langkah kaki menuju gerbang sekolah. Mataku masih kosong.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Kegaduhan diluar gerbang sekolah. Mataku terbelalak seketika. Seperti terjadi keroyokan. Teman-temanku tawuran dengan sekolah sebelah. Aku lari menuju tempat kejadian. Otakku kembali normal. Lamunanku tak ada.

Raut mukaku mengganas. Merah marah!

Ribut.

Ramai.

Ejek-mengejek. Mereka lempar batu.

Aku ikut tawuran.

Kupukulkan buku si bandit setebal 4 cm itu ke kepala salah satu anak sekolah sebelah yang sedang memukuli temanku.

Dan, tibatiba...
Lemparan batu mereka terkena pelipisku. Kacamataku pecah. Aku pingsan. Kepalaku melayang-layang. Wajah bapakku terlintas jelas dikepala.

Bapaaaaak....
Bisikku menggigil.







Negeri amplo puisi oleh Mustofa Bisri, masih penyair kecintaanku.
Dan lirik berjudul Nak, nyanyian fals iwan.
Untuk siapa saja, dari aku.
24.09.11





Wednesday, October 12, 2011

Pada ia yang Kau titipkan pada waktu

Aku percaya padaMu// Pada ia yang Kau titipkan pada waktu// Akupun meyakininya// Kau takkan pernah ingkar pada janji imajiner kita// Aku percaya padaMu// Pada hidup yang Kau gariskan ditanganku// Dan pada hidup yang kau guratkan pada bahunya// Ia tak kan lari dari perjodohan ini// Aku percaya padaMu// Pertemuan yang kau siapkan sejak perpisahan pertama kami// Dan pertemuan kami berikutnya yang masih kau rahasiakan// Adalah harapan nyata hidup kami, bukan utopia yang sekadarnya// Aku percaya padaMu// Sejak ruhmu kau hidupkan pada kami// Sejak itu... Hidupku berlanjut misteri // dan terus akan mempercayai // Bahwa ia benar-benar Kau titipkan pada waktu
// salam duniaku, 26.08.11

tak sesederhana itu

pagi tak pernah ingkar// siang merayap datang menepati janjinya// pada senja yang susul menyusul merambati malam// terkadang aku mengerti, kadang tidak// kenapa tuhan sering kali bersumpah demi namamu, masa. sesingkat inikah engkau.....
salam duniaku,

Thursday, August 18, 2011

Si Tua, Si Tuli Dan Sepeda Kumbang




Gadis kecil berseragam merah putih sedang menggigit-gigit jari manisnya. Terlihat seperti kebingungan. Cemas, lebih tepatnya. Matanya bergerak-gerak cepat kekanan-kikiri. Kepalanya yang kecil mengikuti gerak tubuhnya yang lincah mencari sesosok tua dan beruban. Sudah lima belas menit waktu berlalu dari pukul 12.15, si tua belum kelihatan juga. Gadis kecil terlambat. Jantungnya berdetak hebat. Takut terlambat sekolah.

Jam satu siang masih 30 menit lagi.

Namun, sekolah begitu jauh untuk ditempuh 30 menit dengan sepeda butut. Gadis kecil tambah resah. Dalam hati ia berkata, kek..!cepatlah datang, aku butuh bantuanmu!!!
Dari kejauhan, bayangan laki-laki kurus dengan sepeda tua yang telah menemani kaki-kaki tuanya menempuh sebuah perjalanan, muncul tiba-tiba.

Gadis kelas tiga itu, akhirnya melengkungkan bibir tipisnya. Si tua dan sepeda kumbang tuanya mendengar harapannya.

Cepat kek, aku terlambat! Kata si gadis berbisik.


Sunyi.

Ia, si tua beruban itu, hanya diam saja.

Si gadis berseragam merahputih itu kemudian menaiki boncengan sepeda kumbangnya dan duduk sambil tangan kecilnya memegangi lapak yang hampir lepas kulit penutupnya. Sangat erat.

Sepeda kumbang melaju perlahan.
Jalan setapak pinggir kali menjadi pilihan sepedanya mengantar gadis kecil yang ia sebut, cucu.

Gemericik air kali, memecah kesunyian diantara perjalanan dua insan tua dan sangat muda ini. Dinginnya air kali, mengurangi rasa panas dari terik matahari di kepala kami. Meski, panas masih sangat terasa di bun-ubun. Tak luput membuat rambut si gadis bertambah merah. Nampak sekali si gadis kampung, kurang vitamin. Panas sudah menjadi kawan karibnya.

Kami masih terdiam.

Gadis kecil masih duduk tenang dan masih berharap semoga ia tak terlambat. Si tua pun masih mengayuh sepedanya. Pelan.

Tenang tanpa kata.

Mata si gadis berbinar-binar, dari kejauhan rel-rel kereta nampak dipeluk mata. Pertanda gedung sekolah hampir di depan mata.

Akhirnya, si tua pun memberhentikan sepedanya dan turun. Menoleh kebelakang, sambil tangan kirinya tetap memegang stir sepedanya, si tua melihatnya turun dari boncengannya. Si gadis kecil mengambil tangan kanan si tua, lalu diciumnya.

Aku sekolah dulu ya kek! Assalamualaikum...., katanya pamit.

Wa’alaikumussalam, jawabnya.

Mata si tua masih mengikuti langkah kaki-kaki si gadis menyusuri rel-rel kereta yang harus dilalui untuk menuju gedung sekolah yang sebenarnya. Enam hingga tujuh jalur kereta api yang harus ia tempuh. Loncat sana-loncat sini. Berburu waktu. Sekolahnya berada di balik rel-rel mati itu.

Si gadis berseragam merahputih ahirnya berhasil melewati 7 jalur rel mati itu. Ia, si tua beruban itu masih disana—ditempat dimana si gadis kecil mencium tangan keriputnya. Gadis kecil melanjutkan perjalanannya yang tinggal beberapa meter lagi. Sepertinya mata si tua sudah tak melihat bayangan si gadis. Tiba-tiba terpikir oleh si gadis kecil, mempercepat langkah kaki mencari semak. Dan sekilas petir, ia melesat, bersembunyi.

Gadis kecil ingin melihatnya, pulang.

Si tua memutar sepeda kumbangnya. Dan punggung itu, yang telah melengkung 25 derajat pun menjauh bersama bayangan hitamnya.

Gadis kecil terdiam.

Dan terdengarlah suara bel sekolah, tepat bersamaan dengan kaki kirinya melewati gerbang sekolah.

intermission.

Suatu hari yang lain, masih dengan seragam merahputihnya. Gadis kecil itu lagi-lagi sedang cemas. Seperti biasa, masalah telat ke sekolah. Siang itu si gadis berseragam merahputih itu, menunggu seseorang yang akan mengantarnya ke sekolah. Kali ini, bukan situa yang ia tunggu. Si yang lain, yang ia tunggu. Si itu adalah pak de kesayangannya, yang tak kunjung datang. Ia memanggilnya, wak. Kurang 20 menit lagi jam masuk sekolah.

wak pun datang tiba-tiba.

Aih, kemana saja wak ini!! Sambil menunjuk jam tangan yang sebenarnya tak ada, dengan berkomat kamit kata “telat, ayo cepet” tanpa bersuara! Gadis kecil menggerutu.

Seperti si tua, iapun tak menjawab apa-apa.

Langsung saja, si gadis naik dan berbonceng di sepeda kumbang milik si tua. Ia mengayuh kecang sepedanya. Seperti biasa, kami melewati jalan setapak pinggir kali.

Asyiiiik!kata si gadis memecah sunyi.

Lumayan meski panas, tapi karena wak mengayuh sepedanya agak kencang membuat semilir angin segar merambati seragam putihnya melewati ketiak kanan-kirinya. Si gadis senang bukan kepalang.

Kali telah mereka lewati. Tak ada lagi suara gemericik yang menyejukkan itu. Kini yang terdengar hanya suara gesekan sayap ban belakang sepeda kumbangyang nyaris saling menempel. Tepat dibawah boncengan yang diduduki si gadis.

Srek..srek..sreeekk...

Srek..srek..

Srek..

Si gadis mencari bunyi itu berasal. Tengok kanan-kiri sebelah kaki-kakinya.

Srekk..
Srek..sreek.srekkk...srekk...

Roda masih terus berputar. Meski semakin berat kayuhnya. Si gadis berseragam merahputih merasakannya. waknya dengan sekuat tenaga, mempercepat kayuhnya. Dan...

Srekk..srek...srekkk,

Masih sering kali terdengar mengiringi kesunyian perjalanan mereka melewati perkebunan warisan milik salah satu warga dekat rumah mereka.

Tiba-tiba sampailah di perbatasan rel-rel mati.
Si gadis kecil pun turun.

Dan seperti biasa, ia ambil tangan kanan waknya, diciumnya seperti mencium tangan situa—kakeknya. Sambil berkata “ aku berangkat dulu ya! ” tanpa suara dengan mulut seperti orang kehabisan suara karena menyanyi atau banyak teriak atau bahkan seperti seorang tuna wicara.

Ia hanya menganggukkan kepalanya, mengijinkan gadis kecil pergi ke sekolah.
Matanya mengikuti langkah si gadis kecil di rel mati. Kosong.

Namun sebelum selesai melewati jalur rel mati itu, gadis kecil melihatnya sedang memutar sepedanya.

Dan pulang.

Ia waknya, si tuli—pak de kesayangannya. Anak pertama si tua.
Memunggungi si gadis.

Matanya berkaca.

Dan ia, si gadis berseragam merah-putih ini masih belum bisa membacanya. Lagi-lagi hanya bisa terdiam.



Ziarah ingatan. Begitu fahd djibran, penulis muda favoritku, mengistilahkannya. Akupun menyukai istilah ini. Kata ziarah biasanya kita gunakan untuk hal yang berkaitan dengan orang yang meninggal, kuburan dan sebagainya. Berziarah adalah mengunjungi kembali, mengenang, mendoakan mereka yang sudah tiada. Ziarah ingatan berarti mengenang kembali, bersilaturahmi lagi dengan kenangan yang tertinggal. Kata fahd, ziarah bukan saja mengenang bagi mereka yang sudah tiada. Kadang-kadang yang paling sering kita lupakan justru kenangan-kenangan indah bersama mereka yang masih hidup. Katanya lagi, kita bisa membuang ingatan, tapi kita tak bisa menolak kenangan. Sebab tak semua yang kita ingat akan kita kenang, tetapi semua yang kita kenang tersimpan baik dalam ingatan.

Si gadis berseragam merahputih kelas tiga itu, yang berambut merah karena sengatan matahari, yang selalu cemas akan keterlambatannya ke sekolah, yang selalu menunggu dua orang tua itu adalah aku, si empunya cerita original ini.

Kisah yang kuceritakan ini adalah bentuk ziarah ingatanku kepada dua laki-laki itu—lelaki yang juga aku cintai, selain ayah. Kalian berdua adalah darah daging ibuku. Bersama ibuku, kalian adalah ladang amal bagiku. Kenangan bersama kalian dan sepeda kumbang itu, takkan ku eliminasi dari sudut pikirku. Apapun yang terjadi selama bermetamorfosanya gadis berseragam merahputih itu hingga kini, baik-buruknya kalian berdua, tak jadi soal. Kalian tetap kuanggap laki-laki baik yang kukenal sejak kecil. Laki-laki baik . Tak lebih dan tak kurang. Kalian, Laki-laki yang juga masuk nominasi akan ku cintai sampai akhir hayat. ;-)

Sepeda kumbang yang baik hati. Terima kasih telah menyelamatkan ku dari terlambat kesekolah. Terimakasih juga telah menemani dua laki-laki itu mencari sesuatu untuk mengisi perut-perut mereka. Sesuatu untuk keluarganya dan sesuatu untuk yang mereka pelihara lainnya, kambing-kambing dan sapi milik orang. Terimakasih telah membuat mereka hidup sederhana, sesederhana dirimu. Tapi yang jelas, kau tak membuat hidup mereka sesederhana itu dimataku. Kau dan kedua laki-laki itu begitu kaya di hatiku.

Begitulah...










Dedikasikan untuk wak idris dan anang saleh, dua insan anak-beranak.
Kisahmu belum tuntas kuceritakan. Ini hanya sekelumit ziarah ingatanku malam ini.





cheers;-)