Monday, February 14, 2011

kangen rosul




Muhammad.
mengenalmu tak kalah menyenangkannya dengan mengenal Tuhan

Muhammad.
Mengenalmu jauh menitikan airmata daripada mengenali diri

Muhammad.
Kau membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya

Muhammad.
Kau tahu dimana pertama kali aku mengenalmu—di rumah kecilku, dan kau tau dari siapa aku mengenalmu—dari mulut-mulut baik ayah-ibuku lewat lantunan sholawat buatmu.

Muhammad,
Apakah kau ingin tahu lebih jauh lagi? Bagaimana aku bisa mengenalmu dan mengakrabi namamu dalam hatiku, serasa telah lama bertemu –melebihi usiaku.

Muhammad,
setelah dari darah dagingku dan rumah kecil tempatku dilahirkan, aku mengenalmu dari rumah tuhan—lewat mulut-mulut baik para guru ngaji.

Muhammad,
Mereka semua bertutur baik tentangmu. Serasa Kau ada di depan mata dan hidup berdampingan denganku.

Tapi, ya Muhammad…
Ketika aku beranjak dewasa, begitu banyak caci-maki sesamaku tentangmu
Apalagi sekarang, zaman sudah tak lagi berada dalam lingkaran masamu. Saat engkau telah jauh meninggalkanku berabad-abad.

Muhammad,
Terkadang aku sakit hati, jika mendengar hal-hal buruk apapun yang mereka labelkan pada nama agungmu. Aku tak terima, muhammad. Terkadang juga ingin rasanya membalas menghujat mereka. Tapi aku memilih diam. Seperti katamu, mereka hanya tak mengenalmu saja. Tak tahu hal yang sebenarnya tentangmu. Dan nasihat inilah, yang membuatku memilih cara lain untuk membalasnya.

Muhammad,
Kau tau, bagaimana aku membalasnya. Tetap bersikap santun, tetap menjadikanmu suri tauladan dan tetap menyebarkan (memberikan contoh) ajaran-ajaran kebaikan yang telah kau ajarkan. Meski semua itu hanya aku yang mentasbihkannya sebagai balasan yang arif.

Muhammad,
Memang aku akui, tak semua memilih seperti itu. Sebagian dari umatmu yang sakit hati membalas dengan sikap Anarki atau kekerasan. Kau tahu, aku sedih melihat ini. Lebih sedih ketika mendengar namamu dan sosokmu dihinakan. Karena menurutku, sikap anarki atau kekerasan (membalas menghujat) yang ditunjukan sebagian dari saudaraku, menjadikan nama agung dan indahmu bertambah luka. Sikap anarki akan menimbulkan pandangan yang lebih buruk tentangmu. Dan menjadikan mereka semakin menjadi-jadi untuk memperburuk biografi hidupmu. Semoga kau memaafkan kami.

Muhammad,
Jujur, aku harus sadar. Bahwa saat ini kita sungguh ber-j-a-r-a-k.

Muhammad,
Iya. Ber-J—A—R –A –K, muhammad,

Ber-J—A—R—A—K.

Dan jarak ternyata membuatku menyadari sesuatu, sesungguhnya aku belum begitu mengenalmu. Terlihat jelas dari sifat dan sikapku, jauh dari sifat dan sikap yang ada dalam teladanmu.

Kenapa aku jadi menyalahkan JARAK?
Inikah yang menyebabkan kita semua mempunyai sudut pandang berbeda tentangmu. Atau hanya karena kami kurang mengenalmu.

Muhammad,
Sungguh aku merindukanmu, kekasih.

Muhammad Kekasihku,
sungguh aku tak malu menyebutmu demikian seperti aku malu menyebut lelaki lain sebagai kekasih.

Muhammad,
Meski saat ini aku hanya bisa memandangi namamu melalui kaligrafi—karya tangan-tangan yang mencintaimu.

kangen sosokmu rosul...
menatap jauh punggungmu
aku disini
tetap menatap
dan
iqra'

kangen rosul...














Tabik, enha.

larutkan nyanyian malam




Tuhanku
Ku ingin bercerita
Ku tunduk bersujud
Ku mulai berdoa

Lelahnya jiwaku
Beratnya langkahku

Tuhanku
Ku rindu tawaku yang dulu
Kejujuran kebenaran yang dulu ku tahu
Ke mana semua
Sejauh itukah
Ku sesal sudah

Peluklah semua tanyaku
Jawablah dengan cara Mu

Tuhanku
Ku ingin berkelana
Kembali mencari jalan ke rumah
Bukan di sini tempat ku
Bukan mereka yang ku cinta

Hari ini
Ku mengenali
Arti keberanian
Yang menerbangkanku
Di atas semua derita
Dan apa kabarnya

Usai semua sandiwara
Cukup ku berpura pura
Sejujurnya
Hanya dia yang ku cinta
Ke hatinya aku ingin pulang





"...sedang bertafaku dengan nyanyian pulangmu--dee..."

Cerita Perempuan kecil dan Payung hitamnya





Apa kabarmu wahai perempuanku. Seribu wajah mudamu terlukis dalam ingatan. Tersketsa jelas. Sejelas senyum yang kau bagi buatku malam itu. Ini perjumpaan pertama ku denganmu di malam bulan syawal;setelah cukup lama tak menjumpai wajahmu yang familiar dalam selaput pelangi mataku.

Adakah pesan ingatanku tentangmu pagi ini. Tak elak lagi, aku merindukanmu.
dan, bagaimana kabar payung hitam mu? Payung hitam yang kau pakai untuk melindungi tubuh kecilku dari gelontoran hujan-hujan sore itu.

Apakah kau bertanya, kenapa aku masih ingat dengan payung itu?. Tentu. Aku harus mengingatnya. Momen bersamamu dan payung itu tak kan lekang di gilas usiaku.
Jujur, kenangan indah bersamamu di waktu kecil, membuatku sengaja berniat untuk menjaga dengan sungguh-sungguh kepingan mozaik kehidupan yang kubangun denganmu. Terlalu indah untuk menyingkirkanmu dalam ingatan dan hati kecil ini.

Kau tak tau bukan, apa yang ada dibenakku—anak bertubuh ringkih kelas tiga esde. Saat hujan benar-benar membuatku takut untuk pulang seusai sekolah sore tahun 1995. Lima belas tahun yang lalu. Keluar dari gerbang sekolah, segera aku merayap dan berteduh dipondok bambumu.

Ibumu tak menjemputmu? Tanyamu.

Mungkin karena langit sore itu berselimut mendung hitam pekat. Aku disuruh menunggu diwarung rujakmu, pikirku dengan wajah kekhawatiran.
Namun mendengar kau berucap, “pulang sama saya saja, dan tunggu sebentar. Saya beres-beres warung dulu”.
Dan detik itu pula, ketakutanku akan badai sore itu menghilang tiba-tiba. Aman, Itu yang kurasa setelah mendengar ucapanmu.

Dan kita pun menyusuri jalan pulang kerumahmu. Setelah sebuah plastik hitam mendarat di tanganku—pemberianmu, untuk membungkus tas dan sepatu kasogi milikku. Ternyata kau khawatir juga. Hujan membasahi buku dan sepatu satu-satunya yang kupunya.
Sama-sama tanpa alas kaki, kau dan aku tetap berjalan di atas tanah licin dan berlumpur, disertai hujan lebat sore itu. Seperti biasa, kau berjalan membelakangiku. Aku mengikuti derap langkah kaki cepatmu menapak jelas diatas jalan setapak berlumut mendekati gubukmu. Tanpa kata. Hanya suara hujan yang mewakili kebisingan diantara kita. Dan masih ingatkah kau dengan rel-rel kereta api yang kita sebrangi, menuju rumahmu. Rel-rel mati itu menjadi saksi hidup mozaikku bersamamu. Sungguh, itu cukup bagiku.

Setengah jam kemudian, nampaklah hunianmu. Kau masuk lewat pintu belakang, hanya untuk meletakkan barang-barang kotor bekas jualanmu hari itu. Tanpa berkedip, mataku mengikuti gerak tubuhmu mengitari ruang kecil beratap daun kelapa yang mulai menua. Ruang yang baru aku ketahui fungsinya, untuk tempatmu beristirahat bersama nenek tua, ibu dari ibu kandungmu.

Tanpa jeda sedikitpun, kau ambil payung hitam milikmu untuk mengantarku pulang. Aku tahu, jarak rumahku terlalu melelahkan untuk ditempuh dengan kaki-kaki ini. Tapi tak kau tunjukkan sedikitpun kelelahanmu. Aku salut. Dan terimakasih.

Payung hitam itu, masih sangat membekas dalam sketsa kecilku. Kau dan payung hitam itu, sungguh mulia. Cukup membuat kepalaku terlindungi derasnya hujan.
Kita berbagi sebuah payung. Kau selendangkan tangan kananmu diatas pundakku, isyarat agar tubuhku lebih dekat denganmu. Merapat, serapat-rapatnya. Dan lagi-lagi tanpa sepatah katapun meluncur dari bibir birumu yang menggigil. Kau dan aku menelusuri jalan setapak, sepanjang sungai kecil yang telah berubah lebih menyeramkan karena banjir besar menerjang. Sungai kecil itu meluas hingga sepuluh meter. Naik tiga kali lipat dari sungai kecil biasanya. Akan lebih menyeramkam, ketika waktu itu aku sendiri menyusuri jalan pulang.

Tapi sore itu malaikatku datang…..

Dan baru aku tahu, kaulah malaikat itu. Malaikat yang menjaga anak kecil dari mara bahaya. Meski aku juga tahu, tak ada malaikat berkelamin perempuan. Ah, itu tak penting. Adalah yang jelas dan paling penting—kau baik sekali padaku.

Dengan seluruh tubuh yang basah kuyub dan bibir yang membiru, aku pun sampai dirumah.
Kau dan aku berdiri mematung beberapa detik di depan pelataran rumahku yang tergenang air tigapuluh senti.

Mematung.

Dan tiba-tiba kau, hanya berucap pamit pulang setelah ucapan terima kasihku mendarat dari bibir kecilku yang kelu karena menggigil kedinginan.

Dan…

Kaupun mulai menjauh….










berjalan…



memunggungiku….

jauuuuuuuuh…

kembali pulang berteman hujan dan payung tua yang saling bicara dalam kebisuan.
Kau dan payung hitam itu bercerita.
dan aku,

mulai membacanya….…

Seperti saat ini.

Aku senang kau sehat dan baik-baik saja malam itu. Kau mulai nampak menua memang. Seraut wajahmu terlihat keriput. Tapi senyummu malam itu, tak menghilangkan wajah mudamu yang kukenal saat kecil dulu. Tubuhmu yang mungil, masih tetap saja. Sangat tampak sekali, aku mengejarmu.

Memelukmu malam itu memaksa otakku memutar kembali kenangan kita berdua, kau dan aku. Pelukanmu dan pelukanku saling meng-erat. Kemudian saling lepas pelukan, dan saling menatap. Mungkin dalam pikirmu, “kau sudah besar, wajah kecilmu sudah semakin terlihat memburam. Kini wajah-wajah mungilmu menemukan bentuk kedewasaannya”. Senyumku mengembang. Kau tau apa yang ada dalam pikirku saat menatap matamu malam itu, “Kau perempuan baik, aku tak kan menghianati ingatan kecilku—tuk melupakanmu”. Semoga, sang waktu tetap menyiapkan menit-menitnya untuk pertemuan kita kembali.








Persembahan untuk;
Perempuan yang aku cintai, selain ibu.
Tabik, enha.

gambar dari http://browse.deviantart.com

Sunday, October 17, 2010

Ini saja




Bapak-ibu,
Terima kasih atas ketulusan kasih sayang yang kalian berikan

Bapak-ibu,
Terima kasih atas keikhlasan doa yang kalian lamatkan ditengah malam

Bapak-ibu,
Terima kasih atas kebaikan yang mengalir tercurah tanpa lelah

Bapak-ibu,
Terima kasih atas air mata yang mengalir tanpa pamrih

Bapak-ibu ,
Terima kasih telah tidak menjadikanku majusi, yahudi dan nasrani

Bapak-ibu,
Terima kasih telah menuliskan serangkaian kesabaran dalam hati

Bapak-ibu,
Terima kasih telah menodai hati kami dengan berjuta akhlaq kebaikan

Bapak-ibu,
Terima kasih telah mematri hati kami dengan ayat-ayat-Nya

Bapak-ibu,
Terima kasih atas pengajaran dalam memahami semua ayat semesta melalui sosokmu

Bapak-ibu,
Terima kasih telah menjadi orang tua kami

Keikhlasan dan kesabaran kalian menjadikan kami memakai mantra ini untuk mencintai , ikhlas dan sabar menjadikan bapak-ibu orang tua kami karena Allah

Bapak-ibu,
Tentang sikapku, tentang ucapku, tentang salahku, tentang sifatku dan segala hal dalam hidupku yang bersinggungan denganmu, maaf. Kaulah kecintaanku, perempuan dan laki-laki yang akan kusayangi sampai aku mati.*




Bapak-ibu,
Terimakasih, itu saja.












Salamku, enha.
-* diubah dari kutipan fahd djibran dalam novel Rahim.

women of the day



mengenangmu diee, sudah lama tak bersua….
Rindu suara khasmu…
Diana sekali….

Perempuan. Kecil, mungil, berkulit hitam dan berkacamata—itu lah yang dapat aku dan mungkin kau juga, ketika melihat sosok perempuan ini. kuceritakan dalam bentuk deskripsi pendek. Sangat pendek. Ada satu hal yang membuatku familiar dengannya. Satu hal yang membuat aku tak meragukan sosoknya lagi. Dan satu hal yang membuatku terpingkal-pingkal jika mendengarkan dia bercerita. Yang tak lain adalah aksen Maduranya, yang telah mendarahdaging. Ya iyalah, perempuan yang satu ini berasal dari Situbondo,dimana bahasa Madura sebagai bahasa ibu, yang digunakan oleh mayoritas masyarakat daerah tapal kuda itu.

Sosoknya mungkin tak se”penting” teman-temannya di kampus fakultas sastra jember. mungk in kita yang tak mengenal sosoknya akan Jugde a book by it’s cover. “Melihat” seseorang dari apa yang tampak oleh kacamata kita. Menilainya dengan sebelah mata. Lebih tepat meng-underestimate nya. Ah, bisa apa sih anak itu. biasa aja. Masuk universitas saja mungkin sebuah keberuntungan buatnya, pikir kita. Akupun tak luput dari pikiran bodoh dan tak manusiawi itu. sungguh bodoh.
Dia yang bernama Diana Mahfud.

Diee…,begitu kiranya aku sering menyebutnya. Kali ini, aku dan pikiran bodohku tentang dirinya terbakar, terbang, hilang, dan tak tau rimbanya pikiran bodoh itu pergi. Samar-samar asapnya pun tak terlihat oleh pandangan mataku. Bukan hanya kabur, tapi terusir oleh kehendakNya. Kosong.
Kali ini yang terlihat pada sosok mu adalah, Kau memang ajaib. Kau memang unik. Kau memang salah satu makhlukNya yang menginspirasi aku—manusia bodoh. You are my inspiring women. Andai wanita seluruh dunia ini tau kisah mu yang sederhana dalam hidup. Kau pasti menjadi salah satu inspirasi wanita di seluruh penjuru dunia.

Disuatu pagi, pertemuan kita yang tak terjadwal sebelumnya. Kau bercerita panjang lebar tentang hobby mu menggambar. Aku akui memang, gambaranmu sungguh luar biasa. Kau biarkan jari-jarimu menari dengan lunglai, menggores kertas putih sederhana dengan wajah-wajah manusia yang kau kenal dan tak kau ketahui, siapa dia yang kau sketsa. Puluhan bahkan ratusan mungkin, sketsa-sketsa yang sudah kau lukis. Dari teman-teman sekampus, bahkan kakak-kakak kelas yang minta di sketsa wajahnya olehmu tanpa bayar alias gratis,seGratis air hujan.

Akupun tak luput sebagai klienmu. Kali ini ku minta kau, mensketsa foto nenek dan kakekku. Kau pun menganggukkan kepalamu tanda setuju. Tapi…, katamu menjawab sambil tersendat. Sekarang nggak gratis. Aku pasang tarif untuk satu buah sketsa. Tarifnya, tarif pacar!. Katanya sambil sdikit ketawa. Maksudmu apa diee,,,? Tanyaku penasaran. Ya tarif pacar…, “tariff—apapun akan diberikan buat pacar”. Berarti buat aku, nilai satu sketsa adalah kau memberikan apa yang aku minta. Karena antara aku (pelukis) dank kau (pemesan/klien) adalah ada ikatan “in relationship,” katanya sambil tertawa puas. Akupun tertawa terpingkal-pingkal antara mendengarnya bercerita dan mendengar aksen maduranya yang khas Diana sekali.

Tariff pacar ini terinpirasi oleh peristiwa-peristiwa lucu yang terjadi di sekitar orang-orang atau sahabat-sahabat terdekatnya yang dapat ditangkap oleh kacamata dan mata batinya. Salah satu ceritanya tentang sahabatnya yang seperti pembantu rumah tangga saja, mau disuruh ini-itu oleh sang pacar. Disuruh masak tiap pagi. Laptop nya tak pernah pulang-pulang, karena dipakai sang pacar. Jaket baru yang baru dipakai tak lebih dari dua kali pemakain, sekarang sudah pindah tangan si pacar dan sepertinya tak ada waktu untuk kembali kepelukannya. Ah,kamu ini mau aja ya jadi romusha! Ini-itu mau diatur orang lain. Dia kan Cuma pacar. Cuma pacar. bukan suamimu.,cerita Diana padaku yang asik mendengarnya sambil tersenyum mengenang trageditragedi lucu dan bodoh itu. peristiwa-peristiwa kecil setiap detiknya selalu menggelitik tangan dan pikirannya untuk di ditulis dalam sebuah cerita pendek. Salah satunya cerita tentang sahabatnya itu.

Sungguh! dunia ini banyak hal yang bisa kita tulis, rul. Tutup Diana, sambil meringis mengakhiri ceritanya.

Tuhan. pagi itu dia lah women of the day buatku. Kata-kata terakhirnya terngiang-ngiang ditelingaku, tak henti-henti membentuk paduan suara yang menyanyikan lagu Indonesia raya. Simple.sederhana. tapi penuh daya magis. Buatku khususnya.

Diana tak hanya berbakat dalam melukis, tapi juga bercerita. Tak hanya lisan tapi juga tertuang indah dalam tiap tulisan-tulisannya. Cerpenmu yang berjudul “daster untuk ibu” sudah aku baca. Bagus.,Kataku mengalihkan topic. Kemarin aku baca lewat websitenya si Zaki yang di taq ke social network—FB (facebook). Diana terkejut, mendengar ceritaku. Masak?!koq zaki nggak bilang aku?!katanya bertanya-tanya sendiri.

...

Diee..Cerpenmu yang masuk nominasi urutan ke 6 sejawa timur boleh aku baca?

Diana tersenyum.

Kamu mau baca?merepetisi pertanyaanku.

Boleh kan?kataku.

Boleh lah, besok aku kasih hardcopynya ke kamu ya…!

Ok.jawabku, senang.

Kalau boleh tau tentang apa sih cerpen itu sampai bisa masuk juara ke 6 Se-Jatim?

Poligami, jawabnya enteng.

Apa ?aku terkejut, tak menyangka.

….



….

….

….



Setelah sebuah obralan inspiring itu, dan sebuah janji untuk kembali bersua itu, aku tak pernah lagi melihat batang hidungnya. Kangen….









cheers;-) enh.

women of the day





mengenangmu diee, sudah lama tak bersua….
Rindu suara khasmu…
Diana sekali….


Perempuan. Kecil, mungil, berkulit hitam dan berkacamata—itu lah yang dapat aku dan mungkin kau juga, ketika melihat sosok perempuan ini. kuceritakan dalam bentuk deskripsi pendek. Sangat pendek. Ada satu hal yang membuatku familiar dengannya. Satu hal yang membuat aku tak meragukan sosoknya lagi. Dan satu hal yang membuatku terpingkal-pingkal jika mendengarkan dia bercerita. Yang tak lain adalah aksen Maduranya, yang telah mendarahdaging. Ya iyalah, perempuan yang satu ini berasal dari Situbondo,dimana bahasa Madura sebagai bahasa ibu, yang digunakan oleh mayoritas masyarakat daerah tapal kuda itu.

Sosoknya mungkin tak se”penting” teman-temannya di kampus fakultas sastra jember. mungk in kita yang tak mengenal sosoknya akan Jugde a book by it’s cover. “Melihat” seseorang dari apa yang tampak oleh kacamata kita. Menilainya dengan sebelah mata. Lebih tepat meng-underestimate nya. Ah, bisa apa sih anak itu. biasa aja. Masuk universitas saja mungkin sebuah keberuntungan buatnya, pikir kita. Akupun tak luput dari pikiran bodoh dan tak manusiawi itu. sungguh bodoh.
Dia yang bernama Diana Mahfud.

Diee…,begitu kiranya aku sering menyebutnya. Kali ini, aku dan pikiran bodohku tentang dirinya terbakar, terbang, hilang, dan tak tau rimbanya pikiran bodoh itu pergi. Samar-samar asapnya pun tak terlihat oleh pandangan mataku. Bukan hanya kabur, tapi terusir oleh kehendakNya. Kosong.
Kali ini yang terlihat pada sosok mu adalah, Kau memang ajaib. Kau memang unik. Kau memang salah satu makhlukNya yang menginspirasi aku—manusia bodoh. You are my inspiring women. Andai wanita seluruh dunia ini tau kisah mu yang sederhana dalam hidup. Kau pasti menjadi salah satu inspirasi wanita di seluruh penjuru dunia.

Disuatu pagi, pertemuan kita yang tak terjadwal sebelumnya. Kau bercerita panjang lebar tentang hobby mu menggambar. Aku akui memang, gambaranmu sungguh luar biasa. Kau biarkan jari-jarimu menari dengan lunglai, menggores kertas putih sederhana dengan wajah-wajah manusia yang kau kenal dan tak kau ketahui, siapa dia yang kau sketsa. Puluhan bahkan ratusan mungkin, sketsa-sketsa yang sudah kau lukis. Dari teman-teman sekampus, bahkan kakak-kakak kelas yang minta di sketsa wajahnya olehmu tanpa bayar alias gratis,seGratis air hujan.

Akupun tak luput sebagai klienmu. Kali ini ku minta kau, mensketsa foto nenek dan kakekku. Kau pun menganggukkan kepalamu tanda setuju. Tapi…, katamu menjawab sambil tersendat. Sekarang nggak gratis. Aku pasang tarif untuk satu buah sketsa. Tarifnya, tarif pacar!. Katanya sambil sdikit ketawa. Maksudmu apa diee,,,? Tanyaku penasaran. Ya tarif pacar…, “tariff—apapun akan diberikan buat pacar”. Berarti buat aku, nilai satu sketsa adalah kau memberikan apa yang aku minta. Karena antara aku (pelukis) dank kau (pemesan/klien) adalah ada ikatan “in relationship,” katanya sambil tertawa puas. Akupun tertawa terpingkal-pingkal antara mendengarnya bercerita dan mendengar aksen maduranya yang khas Diana sekali.

Tariff pacar ini terinpirasi oleh peristiwa-peristiwa lucu yang terjadi di sekitar orang-orang atau sahabat-sahabat terdekatnya yang dapat ditangkap oleh kacamata dan mata batinya. Salah satu ceritanya tentang sahabatnya yang seperti pembantu rumah tangga saja, mau disuruh ini-itu oleh sang pacar. Disuruh masak tiap pagi. Laptop nya tak pernah pulang-pulang, karena dipakai sang pacar. Jaket baru yang baru dipakai tak lebih dari dua kali pemakain, sekarang sudah pindah tangan si pacar dan sepertinya tak ada waktu untuk kembali kepelukannya. Ah,kamu ini mau aja ya jadi romusha! Ini-itu mau diatur orang lain. Dia kan Cuma pacar. Cuma pacar. bukan suamimu.,cerita Diana padaku yang asik mendengarnya sambil tersenyum mengenang trageditragedi lucu dan bodoh itu. peristiwa-peristiwa kecil setiap detiknya selalu menggelitik tangan dan pikirannya untuk di ditulis dalam sebuah cerita pendek. Salah satunya cerita tentang sahabatnya itu.

Sungguh! dunia ini banyak hal yang bisa kita tulis, rul. Tutup Diana, sambil meringis mengakhiri ceritanya.

Tuhan. pagi itu dia lah women of the day buatku. Kata-kata terakhirnya terngiang-ngiang ditelingaku, tak henti-henti membentuk paduan suara yang menyanyikan lagu Indonesia raya. Simple.sederhana. tapi penuh daya magis. Buatku khususnya.
Diana tak hanya berbakat dalam melukis, tapi juga bercerita. Tak hanya lisan tapi juga tertuang indah dalam tiap tulisan-tulisannya. Cerpenmu yang berjudul “daster untuk ibu” sudah aku baca. Bagus.,Kataku mengalihkan topic. Kemarin aku baca lewat websitenya si Zaki yang di taq ke social network—FB (facebook). Diana terkejut, mendengar ceritaku.

Masak?!koq zaki nggak bilang aku?!katanya bertanya-tanya sendiri.

Diee..Cerpenmu yang masuk nominasi urutan ke 6 sejawa timur boleh aku baca?

Diana tersenyum.

Kamu mau baca?merepetisi pertanyaanku.

Boleh kan?kataku.

Boleh lah, besok aku kasih hardcopynya ke kamu ya…!

Ok.jawabku, senang.

Kalau boleh tau tentang apa sih cerpen itu sampai bisa masuk juara ke 6 Se-Jatim?

Poligami, jawabnya enteng.

Apa ?aku terkejut, tak menyangka.
….



….

….

….



Setelah sebuah obralan inspiring itu, dan sebuah janji untuk kembali bersua itu, aku tak pernah lagi melihat batang hidungnya. Kangen….